My pure imagination..

Annyeong haseyo! Welcome to my personal blog..^^

Hanraebyung imnida. 96 liner.
Blog ini berisi fanfiction dan hal lainnya mengenai k-pop.kkk

Yeorobun, saya sangat  mengharapkan comment-comment yang kalian berikan.. Itu sangat berharga buat author 🙂

Rules in this blog:

1. No plagiat atau mengcopy-pastekan tulisan-tulisan di blog ini. MOHON DIINGAT!

2. Comment dari readers sekalian. Aku liat statsny cukup tinggi tapi sedikit yang comment. Tolong hargai kerja kerja author di sini! ^^

3. Genre fanfic yang paling umum, romance and fluff. Terkadang author pakai pairing dari Sugen atau Shiningeffects atau berbagai pairing lain.

Thanks for visited(^.^)

Cheers,

Raebyung

Hanraebyung storyline.

Tiffany Hwang. Nichkhun Buck Horvejkul.
Lee Donghae. Victoria Song.

Romance.Conflic.Drama.Hurt/Comfort. Chaptered.
.
.

Tiffany memiliki segalanya yang sempurna. Keluarga, kekayaaan yang utuh-ya semua itu dia miliki. Tiffany orang yang rendah hati. Ia mandiri dan sangat menyayangi keluarganya.

2 tahun berlalu sejak pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya dengan putra rekan bisnisnya.

Tiffany memutuskan untuk melanjutkan perusahaan ayahnya. Dan memutuskan meningggalkan segalanya mimpinya yang dulu ia bentuk dengan susah payah.

Kehidupannya dengan Nichkhun, entah kenapa selalu didatangkan konflik atau banyak masalah. Mereka tidak menyadari sebelumnya.. keputusan yang telah mereka ambil ini, akan membuat keduanya saling mencintai secara tulus. Lama kelamaan perasaan itu tumbuh semakin kuat.

..membuat keduanya saling mengikat janji untuk saling melindungi satu sama lain.
.
.

Author : Luciana Christin N. / @Christincn

Main Cast :
• Han Raebyung
• Kim Kibum (Key SHINee)
• Lee Jinki (SHINee)

Genre : Romance, Conflic, Friendship

Length : Chaptered

Note : Annyeong Readers!
FF Someone Like You ini, author pgn ngejlsin kalau part 1 dan 2 itu full flashbask. Kalau bingung, di bca lgi prolog di part 1 biar lebih jelas bca yang part ini. Comment ya~ Hal itu bisa buat author jadi lebih semangat lho. Hope you’ll be enjoy the story!!

Preview from Part 2

“Raebyung-ah, apakah kau tahu bahwa selama ini aku menyukaimu dan menyayangimu? Ani, malah aku benar-benar mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu, aku langsung merasakan kehangatan di hatiku. Aku langsung jatuh cinta pada sepasang mata coklat yang menatapku teduh. Han Raebyung, kau sangat berarti bagiku.“

Tubuhku membeku mendengar ucapannya. Apa Key sedang mabuk sampai dia bisa berbicara seperti itu?

Kupalingkan pandanganku. Perasaanku campur aduk. Rasanya aku sangat bahagia sekarang.

“ Saranghae”, lanjutnya.

Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Aku segera menoleh ke arahnya.

“Kibum.. Kau tidak sedang bercanda kan? Maksudku kau.. apakah sungguh-sungguh dengan ucapanmu ?!“ tanyaku memastikan.

Key berdeham dan menegakan kembali tubuhnya. Ia memalingkan wajahnya untuk menatapku. Tubuhku terasa kaku ditatapi oleh sepasang mata eclipse yang memandangku dengan tajam itu. Aku balas menatapnya, masih menunggu apa yang akan ia katakan.

“Tentu saja, aku tidak sedang bercanda Raebyung-ah. Dengar, aku tidak akan mengulanginya lagi. Saranghae.. Be my girlfriend ?“ tanyanya serius.

Ha? Apa yang tadi Key katakan?

Kurasakan jantungku yang berdetak dengan cepat.
Apa yang harus kulakukan sekarang?!

“N..Ne.“ jawabku gugup. Aku menganggukan kepalaku cepat sambil tersenyum kikuk. Melihat tingkahku Key hanya mengulumkan senyumnya.

Apa aku pernah merasa sebahagia ini? Demi Tuhan aku benar-benar ingin menangis sekarang.

Key memelukku dan aku langsung menyambutnya. Sedari tadi senyum lebar masih tidak lepas di wajahnya¬¬¬.

Aku… ingin kita selamanya seperti ini, Key.
.
.

Aku masih ingat di saat-saat kita masih bersama dulu. Kaulah yang selalu dapat kuandalkan kapanpun itu, kau selalu melindungiku.
Ketika kita saling berbagi semua kesenangan dan kesedihan..

Tapi ketika mengingat semua kenangan masa lalu itu terasa sangat menyesakkan. Semuanya masih terpatri jelas dalam ingatanku, walaupun sekarang aku sudah menginjak 22 tahun. 4 tahun yang lalu, kau meninggalkanku begitu saja, tanpa memberitakan kabar apapun.
Kita kehilangan kontak selama itu…

Aku tidak pernah tahu dimana keberadaanmu sampai sekarang. Kau menghilang begitu saja. Apa kau tahu aku sudah lelah menunggumu untuk kembali.

Tapi aku menyadari satu hal. Mungkin suatu hari nanti takdir yang akan mempertemukan kita. Di saat kau akan muncul kembali di dalam kehidupanku.
Ya, aku tahu semua itu tidak dapat kuhindari lagi.

Author POV

Seoul, South Korea
21.05 KST

Raebyung melangkah perlahan di sudut jalanan kota Seoul. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan tas tangan berwarna coklat. Raebyung memperhatikan sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana musim panas di ibukota Korea Selatan itu.

Jalanan pun masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil yang berlalu lalang. Benar-benar tampak seperti kota gemerlap yang berkembang pesat sampai sekarang ini.

Raebyung merasa terlalu lelah sekarang. Bagaimana tidak, ia harus lembur di kantornya sampai selarut ini. Tadi padi saja ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, belum lagi hari ini ia sudah bekerja keras mengerjakan bahan untuk rapat besok.

Untung saja Jinki, salah satu partner kerjanya segera membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya. Meskipun melelahkan tapi Raebyung pikir ini semua memang pilihannya. Menjadi seorang sekretaris direktur di Perusahaan Co-Ed dan sudah 2 tahun ia bekerja di sana.

Ia menghembuskan nafas panjang dan mengerutkan kening. Tiba-tiba Raebyung merasa kepalanya pusing. Sepertinya ia memang harus segera sampai di apartemennya untuk cepat beristirahat. Raebyung memutuskan untuk menaiki taksi saja, ia tidak kuat untuk berjalan lebih jauh lagi untuk menaiki bus. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir lagi.

Sesampainya ia di apartemennya, Raebyung langsung menghambur ke kamarnya. Tasnya ia letakkan sembarangan. Walaupun terasa lapar, ia tidak memedulikannya. Segera setelah membersihkan diri, ia langsung berbaring, rasa kantuk dan lelah segera membuatnya tertidur terlelap.
.
.

Raebyung terbangun dengan bunyi dering ponsel yang terus berdering sedari tadi. Cahaya matahari menembus masuk melalui celah-celah tirai kamarnya terasa menusuk matanya.

Ia bergumam tidak jelas dan menggeliat di dalam selimutnya. Matanya membuka perlahan, terasa berat. Dering ponsel yang berisik itu masih terdengar olehnya.

“Oh, baiklah.“ Raebyung bergumam. Ia berjalan ke luar kamar dan menemukan tasnya di atas sofa. Raebyung mengaduk-aduk isi tasnya.
Ha, ketemu. Ia segera mengangkat telepon itu.

“Yoboseo?“
Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

“Yoboseo? Siapa ini? Silakan bicara..”
Raebyung baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu menjawab.

“Maaf.. Apakah benar ini ponsel Raebyung?“
Siapa lagi orang ini?
Mungkin penelpon ini mengira nomor ini adalah milik Raebyung yang lain, banyak kan orang lainnya di Korea Selatan yang memiliki nama yang sama?!

Sekilas ia melihat layar ponselnya. Ia memperhatikan telepon itu dari nomor yang tidak dikenal. Sebenarnya, sekarang ia benar-benar tidak mood untuk meladeni orang ini. Raebyung harus segera mencari dokumen file yang masih berserakan di meja kerjanya.

“Agasshi, maaf. Mungkin anda salah sambung.“ ujar Raebyung dan segera menekan pilihan off di layar sentuh ponselnya. Tapi orang itu kembali menelponnya lagi.

Raebyung menatap ponselnya sambil menggigit bibirnya kesal. Ia baru akan mencabut baterai ponselnya ketika ada sebuah pesan yang masuk. Senyumnya mengembang ketika ia membaca pesan itu.

Sender From : Jinki
Annyeong. Bagaimana awal harimu pagi ini? Haha, aku berpikir untuk mengajakmu makan siang nanti di café biasa^^ Apa kau keberatan? Aku tahu kita pasti akan sangat sibuk nanti, makanya aku ingin menyempatkan waktuku bersamamu, raebyung-ah..

Dengan gesit ia segera mengetikkan balasannya. Setelah itu, ia kembali membacanya dengan hati-hati jawaban yang akan ia kirimkan.

Yah, mereka berdua memang bisa dibilang sangat akrab. Walaupun hanya sebagai partner kerja pada awalnya, hubungan mereka sekarang lebih daripada itu. Raebyung sudah menganggap Jinki sebagai kakaknya begitupun sebaliknya.

Send To : Jinki
Jinjja?! Ah, Keudeyo. Baiklah, dengan senang hati aku menerimanya. Wahh, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu.. Haha, sampai nanti. 😀

Raebyung segera menekan pilihan send. Ia melirik ke arah jam dinding di ruangan itu. Jarum jam sudah menunjukan pukul 09.45. Ia sadar ia akan terlambat kalau tidak segera bersiap-siap.
.
.

Raebyung melangkah dengan tergesa-gesa memasuki sebuah gedung perusahaan ternama, tempat di mana ia bekerja. Aktifitas di kantor itu pun sudah mulai terlihat sibuk. Seraya berjalan ke arah lift, Raebyung tersenyum sambil menyapa dengan ramah orang-orang yang dilewatinya.

Beruntung lift itu kosong. Bisa dibayangkan jika lift tersebut penuh sesak dan ia harus berdesak-desakan sambil memegang 2 map file tebal yang dibawanya sekarang dengan susah payah. Ia segera menekan tombol menuju lantai 25.

Saat pintu lift akan menutup, tampak seseorang yang mencegahnya. Raebyung menatap Jinki yang masuk dan ia tersenyum untuk menyapanya. Jinki hanya tersenyum seadanya karena ia tampak sibuk menjawab telepon.

Raebyung mengamati raut serius di wajah Jinki, sepertinya ada masalah, terbukti dengan tarikan nafas berat Jinki sesudahnya. Jabatan sebagai Assistant Manager memang sering menyulitkan Jinki. Ia seperti sedang berpikir keras dan menunjukan raut wajah yang frustasi.

“Apa ada masalah?“, sahut Raebyung yang segera membuyarkan lamunan Jinki.

“Aniya.. Hanya masalah yang berkaitan dengan pembangunan cabang baru di Busan.“ jelas Jinki sambil menoleh pada Raebyung.

Raebyung menunjukan kekhawatiran di wajahnya. Pasti ini sangat menguras perhatianmu, pikirnya. Melihat itu Jinki tersenyum, ia tidak ingin Raebyung mengkhawatirkannya.

“Tenang saja. Aku pasti bisa mengatasinya. Hal ini hanya masalah kecil saja, tidak usah dipikirkan Rae-ah.“ Raebyung mengangguk mengerti dan sekali lagi ia membenarkan letak map yang sedang dibawanya. Menyadari hal itu, Jinki berinisiatif untuk membantunya. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil kedua map itu. Raebyung segera berterima kasih pada Jinki dan dibalas dengan senyumnya lagi.

Ini kesekian kalinya ia merasa tertolong oleh Jinki. Ia kembali berpikir, sekalipun Jinki tidak pernah membiarkannya kesulitan. Sejak dari awal mengenalnya pun, Jinki memang sosok yang baik.

Saat dentingan pintu lift terbuka, Jinki berjalan mendahului Raebyung ke ruangannya. Lalu ia meletakkan dokumen-dokumen itu di meja kerja milik Raebyung. Sekali lagi ia berterima kasih pada Jinki dan merasa tidak enak karena selalu merepotkannya.

“Ne, cheonman. Hei, aku malah tidak merasa keberatan sama sekali Raebyungie. Kalau ada masalah, hubungi saja aku. Ya sudah kalau begitu, ada urusan yang harus segera kutangani. Sampai nanti.“ Ia segera beranjak keluar dari ruangan itu. Pandangan Raebyung masih mengekori langkah Jinki. Setelah itu, ia segera menyibukan dirinya dengan persiapan bahan untuk rapat yang akan dimulai sebentar lagi. Mengecek dengan teliti slide presentasi dan sebagainya.

Raebyung POV

Rapat selesai saat waktu tepat menunjukan pukul 12. Waktu makan siang masih setengah jam lagi. Hmm, yang kuingat setelah ini aku tidak ada jadwal lainnya selama 2 jam terakhir ini. Semua pekerjaan yang sempat tertunda sudah kuselesaikan kemarin. Ah, lebih baik aku segera memanfaatkan waktu kosongku ini.

Setelah menaruh kembali dokumen file yang kuletakkan di ruangan kerjaku, aku segera menghubungi Jinki.

At café..

“Apa sudah lama menungguku?“ Aku menggeleng saat Jinki bertanya. Ia baru saja sampai dan sekarang duduk di hadapanku. Aku dan Jinki memesan Smoke Beef Steak yang sangat terkenal di sini. Beberapa menit kemudian makanan itu sudah tersaji di depan kami. Tanpa ragu aku langsung memakannnya.

“Hei.. Hei.. kalau makan pelan-pelan nanti malah tersedak. Haha, kau kelihatan sangat kelaparan tahu. Apa kau belum makan sama sekali huh?“ sahut Jinki sambil terkekeh pelan begitu melihatku makan selahap ini.
Glek. Aku menelan semua yang berada di dalam mulutku dengan terburu-buru sehingga membuatku tersedak. Jinki segera memberiku minuman.

“Apa yang kubilang tadi Raebyung-ah..” katanya saat aku sudah mulai memotong daging steak itu lagi. Ia hanya dapat menggeleng prihatin melihat tingkahku.

“Habis rasanya memang lezat kau tahu. Ah, memang dari kemarin malam aku belum makan sama sekali Jinki-ah. Jadi yah jangan heran, beginilah jadinya.” Ucapku sambil membela diri. Aku memasukan sepotong daging lagi ke dalam mulutku. Apa aku harus memesannya lagi? Aku masih merasa benar-benar lapar.

Jinki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Yang dipikirkannya, mau bagaimana pun Raebyung memang seperti ini. Lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya sendiri, tipe seorang hardworker.

“Cck, kau ini. Jangan bekerja terlalu keras Rae-ah. Tidak baik untuk kesehatanmu nanti. Bagaimana kalau maag-mu kambuh lagi?! Kau harus membiasakan untuk makan secara teratur, jangan menunda-nunda waktu makanmu lagi.“

Raebyung hanya membalasnya dengan anggukan mengerti, ia masih tampak sibuk dengan makanannya. Raebyung tahu, kalau Jinki sudah berbicara panjang lebar seperti itu ia tidak dapat membantahnya.
Ia juga tahu setiap kali Jinki menasehatinya karena bermaksud baik. Seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Raebyung mengerti semua itu.

“Apakah aku boleh memesannya lagi? Aku masih lapar, Jebal..” tanya Raebyung sambil menatap Jinki dan memohon padanya.

“Terserah kau saja. Asalkan jangan makan terlalu banyak.“ jawab Jinki sambil tertawa pelan.

Entah kenapa, setiap kali ia bersama dengan Raebyung, ia selalu merasa nyaman dengannya, sejak pertama kali mengenalnya pun.

Apa ada rasa lain di hatinya?
.
.

“Kau kenapa?”

“Hm?”

“Jangan melamun terus. Hei, memangnya sedang memikirkan apa?”

“Rahasia. Haha.”

“Ish. Kau ini. Ya sudah, aku hanya ingin memberikanmu ini.”

“Oh. Gomawoyo Seohyun-ah.”

“Ne. Jangan lembur terlalu malam Raebyung-ah.”

“Ne.. Arrayo.”

Seperti biasa, setiap di akhir bulan aku harus melakukan pembukuan untuk data pemasukan dan pengeluaran perusahaan.

Baru saja tadi manager Seo memberikanku setumpuk data-data itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung memulai pekerjaanku.

Tak terasa, sekarang sudah pukul 11 malam. Cck, lebih baik aku pulang saja. Biar ini semua kulanjutkan besok saja.

Ah, benar saja apa yang baru kupikirkan. Jalanan sudah terlihat sangat sepi. Bagaimana caranya aku pulang? Taksi juga tidak terlihat dimanapun.

“Butuh tumpangan?”
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku, membuatku melangkah mundur. Jinki-ya! Hah, beruntung ada dia.

“Kau belum pulang?” ucapku setelah menaiki mobilnya.
Jinki terlihat fokus mengemudikan mobilnya, ia hanya menjawabnya sambil berpaling dan tersenyum kecil. Kami terdiam dan sunyi melingkupi kami berdua. Yang terdengar hanya alunan musik dari CD-player. Musik yang mengalun indah, memainkan nada piano dari Yiruma – River flows in you.

Entah kenapa, setiap kali melihat Jinki tersenyum, kadang mengingatkanku akan seseorang. Ya, seseorang yang sangat kurindukan.

Malah saat pertama kali melihat Jinki, aku merasa wajahnya sangat mirip dengan dia.

Alunan lembut dentingan piano itu semakin menghanyutkanku. Sekali lagi, aku kembali mengingat di saat-saat dia masih berada di sampingku. Semuanya.

Hatiku terasa berat. Ingin sekali rasanya aku bertemu dengannya walau hanya sekali saja. Kupalingkan pandanganku ke arah kaca, menatap sisi di baliknya.

Lagu ini.. adalah lagu yang dia mainkan saat itu untukku. Aku memejamkan mataku. Menikmati nada-nada yang mengalun indah.

Kenapa aku jadi ingin menangis? Apa aku sangat merindukannya hingga seperti ini? Dengan sekuat tenaga, aku menahan air mata ini agar tidak jatuh dari pelupuk mataku.

“Raebyung-ah.. Kita sudah sampai.” Suara Jinki membuatku sedikit terkejut. Aku masih termangu dan diam dalam posisiku. Aku memikirkan kembali. Apa rasa itu masih tertanam di dalam hatiku?

“Kau tidak apa-apa?”

Jinki menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh ke arahnya. Ia menaikan sebelah alisnya, menunggu jawabanku. Aku hanya mengangguk. Dengan perlahan, ia memelukku. Aku tidak membalas ataupun menolaknya.
Ia mengelus lembut helai-helai rambutku lalu membisikan ‘semuanya akan baik-baik saja. Ada aku yang akan selalu menjagamu.’

Entah kenapa, aku merasa nyaman di dalam pelukannya. Jinki-ya, terima kasih atas semuanya. Semua kebaikanmu padaku.

Setelah Jinki melepaskan pelukannya aku langsung keluar dari mobilnya dan melambai padanya. Jinki segera menjalankan mobilnya dan aku berjalan pelan menuju apartemenku. Kupikir hari ini sangat melelahkan.
.
.

Los Angeles, California, USA

Lelaki itu masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Ia tidak menyadari ada seseorang yang mengamatinya di ambang pintu itu. Beberapa detik kemudian, Kim Joong Min melangkah masuk ke ruangan itu. Ia mendudukan dirinya di salah satu sofa.

Lelaki itu akhirnya sadar akan kedatangan ayahnya. Ia segera beranjak dari tempatnya semula. Ia hanya bisa memikirkan berbagai kemungkinan hal apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya.

Hubungannya dengan ayahnya menjadi sangat kaku, sejak kematian ibunya 12 tahun yang lalu. Walaupun kakaknya, Tiffany tidak menyalahkan Joong Min atas semua ini. Selama ini, kakaknya itu lebih memilih untuk melanjutkan studinya dan menetap di Paris, Prancis.

Ia terkadang iri dengan kakaknya. Tiffany bebas memilih dan menentukan keputusannya, sedangkan ia? Semua yang ingin dilakukannya, hal apapun itu. Semua dikendalikan oleh ayahnya. Ia harus selalu melakukannya.

“Bagaimana kehidupanmu selama berada di sini ?” tanya Joong Min dengan suara berat yang khas yang sudah sangat dikenalinya. Ayahnya selalu berbicara to the point, tidak suka untuk sekedar basa-basi.

“Ne? Tentu saja baik. Seperti yang appa lihat.” jawabnya singkat. Namja itu lebih memilih berdiri dan mengamati lalu lintas yang terlihat dari jendela kaca besar kantornya daripada harus duduk berhadapan dengan ayahnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung celananya.

“Aku akan mengirimkanmu kembali ke Seoul untuk mengurus perusahaan di sana. Tuan Park yang akan mengurus semua kebutuhanmu. Semuanya sudah kutangani. Keberangkatanmu 2 jam lagi. Segala persiapan sudah selesai kuurus.”

Kim Joong Min adalah Direktur CEO pemilik perusahaan Co-Ed. Nama perusahaan ini sudah sangat terkenal di seluruh dunia, khususnya di bidang perekonomian Internasional.

Ia sendiri tidak heran jika ayahnya selalu memiliki ide-ide radikal yang tidak mudah ditebak. Maka dari itu, perusahaan ini sangat maju dan selalu dapat mengalahkan pesaing-pesaing bisnisnya yang lain.

“Baiklah kalau begitu.” Ia menarik nafas berat dan berbalik menatap ayahnya. Ia menghembuskan nafas, resah dengan keputusan yang sangat mendadak ini.

“Aku mengerti.“ , ucapnya sambil menatap lurus ayahnya.
.
.

Hari Minggu. Hari libur ini Raebyung masih tertidur pulas padahal ini sudah mencapai waktu tengah hari. Kebiasaan lainnya yang tidak bisa dihilangkan darinya. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk memulai hari. Ia menggeliat dalam selimutnya dan membuka matanya perlahan. Raebyung menyikap selimutnya perlahan lalu beranjak dari tempat tidur.

Raebyung baru ingat kalau ia belum sempat berbelanja untuk kebutuhannya selama satu bulan ini.

Sehabis mandi dan sarapan, ia memutuskan untuk pergi dengan pakaian kasual saja. Jeans dengan kemeja kotak-kotak, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja. Dan ia juga memakai sepatu sandal favoritenya.

Suasana musim panas yang terik langsung menyambutnya. Ia memutuskan untuk berjalan ke daerah pusat perbelanjaan, sekaligus dapat me-refresh segala kepenatan yang ia rasakan di kantor.

Raebyung POV

Saat memilih barang-barang yang akan kubeli, tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat belanjaannya jatuh berhamburan. Aku membantunya mengambil semua itu dan segera membungkuk meminta maaf berkali-kali karena kecerobohanku.

“Ah, jeongmal mianhamnida agasshi, jeongmal..” ucapanku terhenti begitu aku menatapnya. Senyum lebar langsung mengembang di wajahku.

“Jieun-ah!!!”

“Raebyung-ah!!!”

Sudah 4 tahun sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Kami saling memandang satu sama lain dan ia mengamati perubahan penampilanku. Kami berdua tertawa bersama. Merasa cukup kaget, setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu kembali.

Setelah selesai berbelanja, kami memilih untuk pergi ke salah satu restoran yang jaraknya tidak begitu jauh.

“Bagaimana kabarmu?”

“Omo.. Kau sedang hamil ya?” tanyaku padanya. Terlihat bagian perutnya sudah terlihat agak membesar.

“Tunggu, tunggu kalau begitu berarti kau sudah menikah?? Aigoo, dengan siapa Jieun-ah??” Pertanyaan-pertanyaan langsung betubi-tubi aku tanyakan. Jieun hanya tertawa melihat keantusiasanku.

“Haha. Tenang dulu Raebyungie. Ya, memang satu setengah tahun yang lalu aku baru menikah. Usia kandunganku ini baru menginjak 4 bulan.”

“Wah, chukkae. Hei, siapa dia, namja yang beruntung itu?”

“Eum? Tunggu sebentar, ada panggilan masuk.” Sahutnya yang membuatku jadi agak sedikit penasaran. Aku meminum jus yang kupesan karena di cuaca panas seperti ini membuatku sangat haus.

“Ah~ Itu dia datang.”

“Hm?” Kutolehkan pandanganku mengekori langkah seseorang yang tengah memasuki restoran. Ia melambai ke arah Jieun sambil berjalan ke sini. Wajahnya seperti seseorang yang kukenal..

“Jagiya..” Jieun langsung menyambutnya lalu menggenggam tangan kanannya. Ia tersenyum padaku dan aku membalasnya.

“Kau.. Raebyung kan?” Aku hanya mengangguk.

“Hei, masa kau tidak mengenalnya? Cck, kau ini, masa lupa. Dia adalah orang yang kutaksir dan selalu kukagumi dulu..”

“Ah! Apakah kau Thunder, Park Sang Hyun?” Mereka berdua bertatapan lalu keduanya mengangguk bersamaan sambil tersenyum kepadaku.

Aigoo, aku tidak bisa membayangkan, takdir memilih menyatukan mereka untuk bersama. Aku bisa melihat, dari caranya ia menatap Jieun, bahwa ia sangat menyayangi Jieun. Aku ikut bahagia karena Jieun bisa mendapatkan yang terbaik. Kehangatan dari keduanya saat mereka tertawa bersama dan kebahagiaan yang mereka rasakan.
.
.

“Kau tahu, aku sangat menginginkan dia itu pergi dari hadapanku tapi ia malah bertanya apa salahnya..”

“Hahaha, kau jahat sekali Jinki. Aku tidak menyangka kau bisa seperti itu.”

“Aish, Ya! Jangan tertawa. Kau tega melihatku begini? Sekarang aku merasa sangat jengkel, kenapa sejak kemarin aku selalu merasa diteror oleh wanita itu.”

“Haha.. Apa yang kubilang sebelumnya, pasti ia adalah penggemarmu. Ckck, kau seharusnya mensyukuri keberuntunganmu.”

“Keberuntungan apa? Yang ada malah aku yang selalu kena sial.”

“Hahaha..” Aku terkekeh geli melihat Jinki merengut seperti itu dengan menunjukan ekspresi kesal.

Agak kasihan juga padanya, tapi apa yang bisa kuperbuat? Kupikir seseorang yang mempunyai perasaan suka, kita tidak bisa melarangnya.

“Hei, bagaimana kalau aku mentraktir makanan kesukaanmu?? Chicken?”

“Ehm? Tentu saja aku mau. Aku tidak akan menolaknya Raebyung-ah.”
Dasar Jinki. Jika ada yang menyangkut dengan ayam, makanan apapun itu ia pasti akan sangat menyukainya, sangat. Sifatnya yang seperti ini, terlihat seperti anak kecil saja.

“Yasudah, ayo.” Ia berjalan disampingku dan menggenggam tanganku sambil mengayun-ayunkan genggaman tangannya perlahan. Aku hanya dapat tertawa geli melihat ia bisa sesenang ini.
Haha, dasar Maniac Chicken.
.
.

“Jieun-ah, apa kita bisa tidak menonton melodrama seperti ini?”

“Andweyo! Hua~~ kenapa ibu mertua itu bisa jahat sekali raebyungie. Hiks Hiks..” Jieun mengambil sehelai tissue yang berada di sampingnya.

“Jieunnie, lebih baik ganti saja channel Tvnya. Aku tidak ingin kau menangis terus sampai matamu sembab.” Jieun yang sedari tadi serius menonton film itu, hanya mendelik kesal ke arah Raebyung. Ia segera mengunci mulutnya atau ia akan dimarahi oleh Jieun.

Alasan kenapa Raebyung bisa berada di sini, karena Thunder meminta tolong padanya untuk menjaga Jieun karena Ia sedang ada pekerjaan di Daegu. Dan Raebyung memilih untuk menginap saja.

Sebenarnya, Raebyung sangat tidak menyukai adegan-adegan dalam melodrama seperti yang sedang ia tonton. Ia terpaksa menuruti kemauan Jieun.

Jieun bilang ini adalah permintaan anaknya yang harus dituruti. Yah, mau tidak mau. Kalau boleh memilih, Raebyung pasti akan menonton film-film action atau horror daripada drama.
Hah, ia hanya berharap film ini akan cepat selesai.
.
.

Sebuah pesawat baru saja landing dan mendarat di Incheon Airport. Lelaki itu baru saja tiba di sana dan ia melangkah menuju pintu utama airport itu. Ia menarik nafas dan tersenyum karena teringat sesuatu di benaknya.

Disinilah semua kenangannya berkumpul menjadi satu. Seluruh harapannya yang selalu ia teguhkan di dalam hatinya.

Lelaki berambut coklat gelap itu berjalan keluar menuju Gate 11. Ia melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan sejak tadi. Entahlah, ia merasa sangat merindukan tanah kelahirannya ini. Sejak kedatangannya ke LA, ia telah memutuskan kontak dengan siapapun.

“Tuan muda, selamat datang kembali.” Seseorang tengah menyambutnya dan membungkuk hormat pada pemuda itu. Ia imembalasnya sambil tersenyum ramah.

Teringat akan tujuan yang sebenarnya-mengapa ia langsung menyetujui niatan ayahnya , ia segera menanyakan satu hal pada Park ahjussi.

Hari ini, ia merasa harus mencari keberadaan seseorang yang selama ini sangat ingin ia temui.

Cinta pertamanya..

Raebyung POV

“Apa aku harus benar-benar pergi Jinki-ya?” tanyaku sekali lagi.

Sebenarnya, aku tidak ingin datang ke sana. Ada acara penting yang diselenggarakan oleh perusahaan yaitu pelantikan CEO yang baru, menggantikan presdir Joong Min yang akan memimpin perusahaan ini selanjutnya.

“Tentu saja. Apa kau ingin wanita itu yang menggantikanmu? Lagipula manager Seo juga sudah menugaskanmu.”

“Lebih baik Victoria saja yang pergi. Hei, bagaimana kalau pekerjaanku di sini ada masalah?”

“Ssst. Sudah tidak usah dipikirkan. Biarkan Victoria yang menanganinya.”

“Tapi…”
Setelah lama berargumen panjang, akhirnya aku mengalah. Lagipula pasti Jinki yang akan lebih cerewet dariku.

“Tenang saja. Besok aku akan menyusulmu ke Jepang. Sudah sana, sudah waktunya untuk check-in.” Aku menarik nafas panjang sambil berjalan ke arah antrian. Aku menoleh ke arah Jinki, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum padaku. Aku segera membalas senyumannya.

Saat aku menolehkan pandanganku ke arah lain, seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah denganku, ia menubrukku dan membuat tas tanganku jatuh dan seisi tasku jatuh berhamburan.

Aku segera mengambil barang-barangku dan ia ikut membantuku. Aku terpaku dan terdiam mengamatinya. Sosoknya yang berperawakan tinggi dan berkulit putih pucat. Ia berambut coklat gelap dan mengenakan jaket dan celana senada serba hitam yang dipadukan dengan kaus putih. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Ia berpaling dan tersenyum kepadaku sambil meminta maaf. Ia membantuku berdiri sambil mengulurkan tangannya.

Sesaat aku masih terpaku menatapnya lalu ketika aku menyadari bahwa aku akan terlambat, aku segera bangkit berdiri dengan meraih tangannya. Aku membungkuk meminta maaf dan cepat-cepat pergi dari situ. Tidak ingin tertinggal yang lainnya, lebih baik aku segera menyusul yang lain.
.
.

Tok. Tok. Tok.

“Raebyung-ah, apa kau sudah siap? Cepat, sebentar lagi acaranya akan dimulai.”

“Ah, tunggu sebentar Seohyun-ah.” Sambil terburu-buru merapikan blouse yang kupakai dan dipadukan dengan high heels berwarna peach soft yang segera kukenakan, aku segera menghentakan kakiku ke arah pintu. Disana sudah berdiri Seohyun yang sudah menungguku sejak tadi. Aku hanya dapat tersenyum meminta maaf.

“Cck, kau ini. Ya sudah, ayo cepat. Kita sudah tidak ada waktu lagi.”

Saat kami memasuki aula tempat pertemuan itu, disana sudah banyak wartawan dan reporter yang akan meliput. Kami menunjukan ID-pass dan dapat masuk dengan mudah. Aku dan Seohyun segera mengambil tempat yang sudah disediakan di bagian depan. Aku menyadari hanya kursi Jinki saja yang masih kosong. Demi Tuhan, dimana kau, Lee Jinki?! Ia telah berjanji padaku akan datang kemari. Hah, benar-benar dia itu.

Selang beberapa detik kemudian, acara dimulai. Aku tidak terlalu menyimak susunan acaranya, yang jelas aku sangat mengkhawatirkan Jinki, dimana dia sekarang. Tiba-tiba riuh tepuk tangan menyadarkan lamunanku.

Seseorang baru saja memasuki pintu aula dan tengah berjalan ke arah podium yang masih diiiringi tepuk tangan yang membahana. Aku mengerjap kedua mataku karena blitz kamera dari para wartawan yang menghalangi pandanganku.

Aku terkaget saat tersadar siapa dia. Darah di tubuhku seakan membeku seiring dengan detak jantungku yang berdebar tak karuan. Tatapanku masih mengekori langkahnya. Disaat tatapannya menuju ke arahku aku segera mengambil air yang tersedia dan meminumnya sampai habis.

“Gwaenchanayo?” Seohyun bertanya padaku karena melihat tingkahku yang menjadi sedikit aneh. Aku mengangguk canggung. Pikiranku kacau.
Pria yang kulihat tadi, dia pria yang tidak sengaja kutemui di bandara, yang akan menjadi Ceo pengganti dari Kim Joong Min presdir adalah Kim Ki Bum-Key. Jadi, Key adalah anak dari presdir?!

Disaat acara pelantikan telah selesai, aku memutuskan untuk segera pergi. Seohyun sempat bertanya ada apa tapi aku hanya tersenyum dan berkata tidak ada masalah apa-apa. Kepalaku terasa pening. Pertanyaan yang bersarang dihatiku : Kenapa harus sekarang? Kenapa disaat aku sudah hampir melupakannya?
.
.
.
TBC

Hanraebyung storyline.

Lee Hyun ri. Kim Jong woon/Yesung.

Love.Life.Tragedy.Hurt/Comfort. G rated.

I don’t know if I have been met love.. If I could recognize it, I will keep it and fight for it.. If I had a chance once again.
.
.

“Kim Jong woon, cukup! Aku tidak ingin mendengarkan kata itu lagi darimu. Aku..sudah cukup lelah untuk semua ini.”

“Kau bilang lelah? Aku juga sudah sampai pada titik itu sekarang. Aku..ingin kita bercerai saja Hyun ri.”

Bercerai. Ya, kata itu sangat menohok hatiku.

Aku hanya terdiam. Aku memandang lelaki di hadapanku dengan putus asa. Apa dia benar lelaki yang pernah mengucapkan kata cinta? Berjanji pada Tuhan akan mengikat cinta selamanya kepadaku?

“Kau…serius dengan ucapanmu itu?” bisikku.

Jong woon hanya menghela nafasnya. Ia tidak dapat menahan air matanya. Hatinya juga terasa sakit. Ia sudah lelah. Ya, bercerai. Satu kata yang dapat menjadi akhir rumah tangganya dengan Hyun ri.

Jong woon tidak sanggup untuk terus berada di ruangan ini bersama Hyun ri. Bukan karena ia jengah, tapi rasa sakit di hatinya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.

Tanpa menatapnya, Jong woon menghempaskan tangan Hyun ri yang menggenggamnya barusan. Tanpa menoleh lagi, Jong woon berjalan ke arah pintu di sudut ruangan itu. Keluar dari kesesakan yang menyiksanya.

Hyun ri hanya bisa menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk dirinya sendiri. Ia hanya dapat menangis. Tak dipedulikannya air mata yang jatuh membahasahi permukaan kulitnya.

Jika memang ini semua adalah hal yang terbaik. Jika memang harus berpisah..walau sulit, Hyun ri ingin semuanya akan kembali dalam kondisi yang normal, seperti dulu. Jika memang, cerai adalah jalan keluarnya.
.
.

5 years later..

Musim gugur. Musim yang kelabu dan suram. Musim yang hanya dapat menghilangkan segala keceriaan musim semi yang indah dan mengubahnya jadi serba gersang.

Wanita itu, ia masih dapat mengingat semuanya. Dia Lee Hyun ri. Ya, dia masih mengingat kenangan tentang Jong woon. Walaupun itu menyakitkan dan hanya membuka kembali luka lama.

Di sinilah ia. Di sebuah kota kecil di daerah pinggiran Daegu. Desa yang nyaman dan jauh dari hiruk pikuk kota Seoul.

Meski tinggal di daerah yang terpencil, Hyun ri senang bisa tinggal disini. Ia banyak memikirkan kesalahan yang telah diperbuatnya.

Desiran ombak dan hembusan angin yang lembut selalu dapat menenangkannya. Hyun ri berjalan pelan di pinggiran pantai itu. Ia mengeratkan kembali syal yg melindunginya dari cuaca dingin musim gugur ini.

Hyun ri lagi-lagi berpikir. Hanya keegoisan yang menyebabkan semua itu terjadi. Berawal dari rasa cemburu dan cinta yang menyebabkannya.

Bagaimanakah kabarnya? Pertanyaan yang terngiang di hati Hyun ri, yang tidak bisa diketahui jawabannya.

Hyun ri tahu, manusia tidak akan ada yang sempurna. Pelajaran mengenai masa lalu akan menjadi sia-sia jika ia tidak dapat menghilangkan keegoisan itu di dalam hati dan perasaannya. Hanya takdir yang tahu, apa yang akan terjadi berikutnya.

Hyun ri ingin ia mendapatkan takdir yang lebih baik. Ia belajar untuk menghargai apa yang ia punya. Sebelum merasakan kehilangan yang pedih, Hyun ri ingin dapat mempertahankannya dengan sekuat tenaga.

Hyun ri mengerti bagaimana kesempatan kedua sangat mustahil untuk ia raih. Tetapi.. Sebelum semuanya lenyap, sebelum usahanya untuk menjadi lebih baik bisa ia capai. Hyun ri ingin merasakan kembali kehangatan cinta yang dulu ia rasakan. Bagaikan nafas yang hilang dari hatinya. Jika memang ia bisa mendapatkan kembali rasa itu, merasakannya lagi. Takdir pasti akan memilihnya yang lebih baik.

Hyun ri akan terus percaya semua itu.
.
.
END

Author : Luciana Christin N. / @Christincn

Main Cast :
• Han Raebyung (me)
• Kim Kibum (Key SHINee)

Genre : Romance

Length : Chaptered

Note : Annyeong! Ini bagian part 2 nyaa.. Storyline dari ff ini murni dari pemikiranku sendiri. Maaf kalau sebelumnya ff ini masih jauh dari kesempurnaan.
Hope you’ll be like this story.. Tolong hargai kerja keras author. Don’t be a silent reader !!! Like, Read, and Comment^.^
Happy Reading!! 

###

Kurasa aku akan selalu mencintaimu.. sampai kapanpun itu.
Meskipun berkali-kali aku selalu mencoba untuk mengelak…
Saranghae.

###
– Part 2 –

Ki Bum Pov

Drap.. Drap.. Drap..

Terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa menggema di koridor yang sudah tampak kosong ini. Sekolah memang sudah terlihat sepi sekarang sudah lewat dari jam pulang sekolah.

Kulirik sekali lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Hah, kurutuki nasib sialku sekarang. Aku harus pulang terlambat karena ada barang yang tertinggal olehku tadi di ruang musik.

Ketika tengah berjalan menuju ruang musik, dari kejauhan terdengar sayup-sayup alunan permainan piano yang sangat indah.
Siapa yang memainkannya? Batinku dalam hati.

Dengan rasa amat penasaran, kulangkahkan kakiku dengan perlahan agar tidak mengusik permainan orang itu.

Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dapat kulihat seorang yeoja yang sedang bermain piano. Tunggu, wajah dan siluet tubuhnya seperti seseorang kukenal.. Oh, bukankah itu Raebyung ? Sedang apa ia disini ?

Sebentar, setelah kuperhatikan lagi ia terlihat seperti habis menangis. Tiba-tiba lamunanku itu seketika buyar begitu mendengar nyanyiannya selang beberapa detik kemudian. Suaranya terdengar merdu sama seperti permainan pianonya tadi.

There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over
And over and over again

So I lay my head back down
And Iift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give you my destiny
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs, I’m giving it back

I pray to be only yours
And I know now you’re my only hope..

Saat kusadari permainannya itu sudah selesai, aku segera beranjak untuk menemuinya. Ia terlihat begitu kaget ketika melihatku, seperti aku ini seseorang yang tidak ingin ia temui sebelumnya.

Dia hanya menunduk sambil berdiri memunggungiku begitu melihatku tadi. Kuberanikan diri untuk menyapanya.

“ Annyeong.. Raebyung. Ige, sedang apa kau disini ? “ ucapku sambil menghampirinya.

“ Annyeong haseyo, Kibum-ssi. Ku rasa itu bukan urusanmu. “ balasnya dengan suara bergetar seperti habis menangis.

“ Gwaenchanayo ? “ Aku merasa begitu khawatir melihat keadaannya sekarang. Entah ada hasrat apa yang tengah menghampiriku sekarang. Kuraih kedua bahunya dengan jemariku seraya menghadapkan tubuhnya untuk menghadapku.

“ Naneun.. gwaenchanayo. “ gumamnya lirih sambil menepis kedua tanganku yang berada di bahunya. Saat ia menegakkan wajahnya, kulihat matanya yang terlihat merah juga wajahnya yang dipenuhi air mata yang mengering.

Ingin sekali rasanya aku dapat menghapus semua kesedihannya. Jujur, aku benar-benar merindukan senyumanmu yang dulu Raebyung-ah. Yang selalu kulihat sekarang hanyalah wajahnya yang terlihat sendu itu.

“ Aku harus pergi Kibum-ssi. “ ucapnya sambil berjalan melewatiku. Ia terlihat jengah dengan tatapanku yang menatapnya dengan lekat tadi.

“ Tunggu, aku…“

Ia tetap berlalu begitu saja tanpa menggubrisku sama sekali lalu menutup pintu dengan kasar. Bunyi pintu berdeham kudengar kemudian. Aku meringis mengingat tatapan datarnya. Kenapa dia terlihat begitu dingin bahkan terkesan seperti menjauhiku? Hei, memangnya apa salahku hah?

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada liontin yang tergeletak di bawah piano. Kuraih benda itu sambil mengamatinya lekat. Entah mengapa aku merasa sangat familiar dengan liontin ini..

Tunggu, bukankah ini hadiah yang dulu kuberikan ?

###

Raebyung Pov

Kenapa kau selalu muncul di saat aku ingin melupakanmu ?
Mengapa aku selalu saja memikirkanmu ?
Seperti rangkaian memori yang akan selalu kuingat, kedua pertanyaan itu selalu terngiang di dalam pikiranku.

Memori yang selalu kucoba untuk dilupakan. Tapi, perasaan ini… Entahlah, aku tidak ingin mencoba mengerti hal serumit ini. Kuamati sebuah kalung yang tergenggam dalam jemariku, dapat kuingat jelas semua kenangan itu.

– Flashback –

Langit Seoul ketika malam hari memang selalu terlihat lebih indah. Kalian tahu, aku merasa sangat senang ketika melihat bintang bertaburan seperti ini. Memandangi sinar cemerlangnya yang terlihat seperti kristal menurutku. Perasaan antara kagum dan senang yang selalu kurasakan. Aku tidak tahu kenapa begitu menyukai kebiasaanku ini.

“ Kau sedang apa? Hei, apa kau sedang memandangi langit seperti biasanya? Ah, aku benar – benar bingung. Apakah ada yang terlihat menarik dari semua itu ?“

“ Aish, kau diamlah. Kenapa kau hobi sekali merecoki dan menggangguku hah?“ balasku dengan menatap sinis ke arahnya. Otomatis, semua khayalanku tadi langsung hilang begitu saja oleh sebuah suara yang kuyakin dialah orangnya. Siapa lagi selain DIA yang selalu menggangguku ?!

Ketika aku menjawabnya pun ia membalasnya dengan cengiran lebar yang tersungging di wajahnya.

“ Heh.. jelek. Aku kan hanya bertanya saja, tidak boleh?! “ jawabnya menanggapi dengan nada yang juga terdengar sinis.

Masa bodoh, pikirku. Aku tidak menghiraukannya. Kuabaikan saja dia, biar tahu rasa, dan kembali melanjutkan aktifitasku tadi.
Memandangi bintang-bintang indah yang bertaburan ini 

15 menit berlalu. Aku masih saja asyik sendiri, masih belum menghiraukan keberadaannya. Ya, walaupun di sekolah aku selalu bertemu dengannya, tapi kadang ia sering datang ke halaman belakang rumahku sekedar berkunjung, seperti sekarang ini.

Merasa gerah dengan sikapku yang keras kepala, akhirnya ia mengalah juga dan memecahkan kecanggungan di antara kita.

“ Raebyungie.. jangan seperti ini. Jebal, mianhae. Kau pasti merasa marah padaku, itu wajar. Masalah tadi siang, sebenarnya akulah yang memang merencanakan untuk mengerjaimu tadi. “
Aku hanya meliriknya melalui ekor mataku. Kulihat ia menunduk dan semakin menunduk. Sepertinya.. ia benar – benar menyesal dengan kelakuannya tadi. Cck, aku paling benci kalau seperti ini. Rasanya benar-benar menjengkelkan.

Kemudian ia menegakkan kepalanya dan menatapku, menunggu apa yang akan kukatakan, memaafkannya atau tidak.

“ Johae.. Untuk kali ini aku akan akan memaafkanmu. “

“ Jeongmal? Haha, gomawo raebyung-ah. “ Tampak terlihat air mukanya langsung berubah cerah dan senang begitu aku mengucapkannya.

“ Ne, aku juga tidak akan memberimu kesempatan ini lain kali. “

“ Iya, aku tahu itu. “

Ia tersenyum manis setelah itu. Aku benar-benar menyukai senyumannya. Setiap melihat ia tersenyum seperti itu entah kenapa rasanya hatiku selalu berdesir.

“ Raebyung-ah… Sangeul chukkae. Di ulangtahunmu yang ke 15 ini, kuharap kau selalu menjadi Han raebyung yang kukenal dan kau selalu menjadi sahabatku. “ ucapnya sambil tersenyum lagi padaku.

Sebelum aku sempat membalas ucapannya, tiba – tiba ia langsung berdiri dari kursi gantung yang kami duduki dan langsung menarikku ke dalam pelukannya.

“ K.. Key-ah.. “ Aku masih merasa kaget dengan apa yang ia lakukan, juga masih sulit untuk berkata-kata. Kurasakan detak jantungku berdetak tak karuan seperti akan melompat keluar. Ya Tuhan.

Tak berapa lama kemudian akhirnya ia melepaskan pelukannya. Lalu ia memasangkan sebuah liontin untukku. Liontin itu terlihat sangat indah. Aku menyentuhkan jemariku di atasnya sambil menatapnya yang tengah tersenyum lebar kearahku. Aku meneguk ludahku, merasa gugup sekaligus terhipnotis dengan seluruh kharismanya.

“ Ini… sangat indah. Gomawo. “ Hanya itu rasanya kalimat yang bisa kuucapkan. Lidahku terasa kelu. Aku masih merasa lemas dengan detak jantungku yang tidak beraturan ini.

“ Itu adalah hadiah untukmu. Kau harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai hilang. Arra ? “

“ Ne, arraseo. “ jawabku sekenanya.

Kualihkan pandanganku karena kurasakan wajahku memanas dan pastinya pipiku merona merah ketika mengingat hal itu. Baru kali ini dia memelukku. Hahh, cukup dengan pelukannya saja sudah membuatku panas dingin seperti ini. >.<

Sekian detik berlalu, tidak ada yang berbicara di antara kami. Masih sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“ Raebyung-ah..”

“ Nde? ” balasku sambil menoleh ke arahnya.

Dengan perlahan ia berjalan lebih dekat kearahku. Aku hanya dapat berdiri mematung tanpa dapat mengalihkan pandanganku.

Makin lama jarak antara kita berdua semakin dekat. Dapat kurasakan nafasnya yang terasa hangat menerpa mengenai wajahku. Aku dapat menghirup aroma tubuhnya dari jarak sedekat ini. Kurasakan Ia mengecup keningku sambil memelukku kembali dengan erat.

Aku menahan nafasku. Sejak tadi aku hanya dapat menutup mata rapat-rapat, pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya.

Lalu…

5 detik…

10 detik..

Hei, kenapa tidak terjadi apa-apa?
Refleks, kubuka kedua mataku. Kemana dia? Aku mencarinya melalui sudut mataku. Ia tidak terlihat dimanapun. Omo, aku baru sadar kalau aku dikerjai olehnya.

“ Key !!! “ teriakku dengan suara yang lantang.

– Flashback End –

Kugenggam erat kalung ini, mencoba mencari kekuatan untuk benar-benar melupakan semuanya.

Aku merasa bodoh..

Sekian lama aku menyukainya, mencintainya, namun tidak memiliki keberanian lebih untuk menyatakannya. Selama itu aku hanya dapat menyimpan rasa itu rapat-rapat. Selama itu aku hanya ingin tetap berada disisinya dan menjadi sahabatnya.

Saranghae.. Walaupun aku berteriak sekalipun, mungkin kau tidak akan mendengarnya Key-ah.

Sakit rasanya.

Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya mengalir begitu saja tanpa sempat kucegah. Kupikir aku sudah tidak mampu menahannya sekarang. Sudah terlalu sakit. Menangis dengan berlinang air mata seperti ini, sangat miris, ejekku pada diri sendiri.

Kutarik nafas panjang untuk menenangkan diri sejenak. Membiarkan kristal kristal bening ini jatuh dengan sendirinya. Kutatapi tuts tuts piano di hadapanku ini seraya menaruh jemari-jemariku di atasnya.

Ting.. Ting..

Terdengar nada yang tidak beraturan dari tuts yang tadi kutekan asal. Aku mencoba memainkannya untuk meringankan perasaanku sekarang. Dengan serentak, jari jemariku menekan deretan tuts piano ini yang memperdengarkan alunan melodi merdu yang khas.

~

Pagi ini, seperti biasa aku mengambil tempat duduk paling belakang dikelasku. Menaruh tas, lalu mendudukan diriku. Kusibukan diriku dengan membaca sekilas partitur musik yang sengaja kubawa ini, mencoba memahami nada-nada yang tersusun dengan harmonis itu.

Brak!! Beberapa murid di kelasku menoleh ke arah sumber suara, aku pun ikut melihat ke arah pintu kelas, karena kuyakin suara berisik itu berasal dari situ.

Dan benar saja, seseorang telah menendang pintu itu. Bisa kulihat Kim Jonghyun, murid yang sekelas denganku itu muncul dari balik pintu itu. Ya dia memang anak yang populer di sekolah ini. Ah, aku tidak mau ambil pusing, karena aku tahu dia sering membuat onar meskipun populer. Aku cukup mengetahuinya dari Jieun.

Tidak lama kemudian, Key dan Minho ikut memasuki kelas. Aku mulai memperhatikan 3 orang yang ada di depan kelas itu. Mereka memang selalu menarik perhatian banyak orang.

Aku sedikit memfokuskan pandanganku untuk melihat Key. Tidak, pandangan kami bertemu. Aku mengerutkan kedua alisku karena aku mulai menyadari Key berjalan kearahku. Dengan cepat segera kupalingkan pandanganku dan menatap partitur musik di hadapanku. Kugenggam erat kertas-kertas itu, jangan sampai dia benar-benar sadar bahwa aku memperhatikannya tadi.

“ Kau memperhatikanku?! ” tanya suara yang sangat kukenal siapa pemiliknya. Bisa kurasakan beberapa orang menoleh kearahku. Aku mencoba untuk memasang tampang tidak tahu apa-apa dan tidak menanggapi perkataannya.

“ Hei! Aku bertanya padamu ?! “ tanyanya lagi. Aku masih menunduk menatap kertasku sampai kusadari kertas itu ditarik olehnya, terpaksa membuatku mendongak untuk menatapnya. Sekali lagi pandangan kami bertemu, aku memandangnya sedatar mungkin.

“ Nah begitu. Kau harus menghargai lawan bicaramu. “ ucap Key sambil melemparkan senyumnya.

“ Kembalikan itu ! ” ucapku tanpa membalas ucapannya barusan. Key mendengus tertawa kali ini. Melihat ekspresi tidak peduliku, senyum sedikit memudar dari wajahnya. Dengan sedikit malas ia melemparkan kertas-kertas itu ke mejaku. Kini ia telah berdiri tepat di hadapanku. Kemudian ia menggaruk kepalanya, tanda bahwa ia sedang gugup dan bingung ingin berbicara apa.

“ Mmm, begini. Itu, jadi… bagaimana dengan tugas akhir musik kita ? “

“ Oh? Masalah itu.. “

“ Tunggu. Boleh aku meminta no.ponselmu ? Supaya akan lebih mudah jika aku ingin menghubungimu untuk membicarakannya. “

Aku mengangguk sekilas. Key memberikan ponselnya padaku, dengan ragu aku memasukan no.nya.

“ Baiklah. Raebyung, “ seru Key sebelum kembali, aku mengangkat wajahku menatap ke arahnya. “… mohon kerja samanya.“ Katanya sambil membungkukan kepala.

“ Nde. “ ucapku datar sambil ikut membungkukan kepala. Kemudian ia berbalik. Aku menatap ke arahnya yang sedang berjalan ke arah Jonghyun dan Minho.

Entah kenapa aku merasa ingin sekali tersenyum sekarang.

~

Aku mengarahkan badanku di setiap sudut ruangan. Sudah hampir setengah jam dari waktu istirahat yang kuhabiskan untuk mencari liontinku yang hilang.

Bodohnya aku, padahal ini liontin yang berharga, tapi aku telah menghilangkannya sejak 3 hari yang lalu. Ini memang salahku yang tak ingin memakaiinya, jadinya setiap kali aku hanya meletakkannya di saku jas sekolah. Aigoo, kenapa aku bisa ceroboh sekali.

Ya, di sinilah aku menghilangkannya, di ruangan musik ini. Aku yakin betul, pasti kalung itu terjatuh saat aku sedang bermain piano karena hanyalah tempat ini tempat yang sering ku kunjungi. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal karena saking frustasi mencarinya.

“ Mencari inikah ? ” ucap seseorang yang berada di sampingku. Suara itu terdengar tak asing bagiku. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melihat siapakah sosok itu.

Deg
Hatiku mencelos. Dia.. Key!

Dengan cepat aku segera berdiri berhadapan dengannya. Mataku langsung tertuju pada benda yang menggelantung di antara jemarinya. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera kurampas liontin itu dan bergegas untuk pergi.

“ Chakkaman ! “ Ia berusaha menahanku.
“ Apakah ini sifat aslimu? Melarikan diri dari masalah juga tidak mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Untung saja aku yang menemukannya. Bagaimana kalau orang lain ?! “ Ia menyindirku sekaligus menghadangku untuk membuat tidak ada ruang untukku bergerak.

Kuhela nafas dengan berat sambil mengarahkan pandanganku untuk menatap manik matanya, kulihat ada semacam emosi yang tengah berkecambuk di sana. Kupikir wajar jika dia marah, memang ini semua salahku.

“Mian. “ balasku dengan menatap datar ke arahnya.
“ Chogi.. ada tugas dari Kim-Saem yang belum kukerjakan, aku harus buru-buru kembali ke kelas. “ Alasanku.

“ Kim-Saem tidak masuk hari ini. “ Ucapnya ketika aku baru berjalan beberapa langkah.

Aish. Bagaimana ini ?
Hahh, ayo cepat cari alasan lain.

“ Mmm, geurae. Maksudku Shin-Saem. “ Bohongku lagi.

“ Ia baru mengajar lusa nanti. “ Ia hanya menanggapi kebohonganku dengan santainya.

Glek. Mati aku.

Baru saja aku menoleh ke arahnya, ia langsung menyeretku dan mendudukanku di kursi beledu yang biasa kududuki saat bermain piano. Ia ikut mendudukan dirinya disebelahku sambil menatapku tajam.

“ Jangan pernah menganggapku sebagai orang lain lagi. Lama-lama aku merasa gerah dengan sikap anehmu iini. Dengar, aku masih sahabatmu yang dulu. Sekarang aku akan memainkan sebuah lagu khusus untukmu. ” Perlahan tatapan matanya melunak ketika menatapku dan ia tersenyum lembut padaku. Setelah itu ia tidak berbicara lagi dan langsung fokus bermain. Aku hanya menatapnya risih tanpa membalas ucapannya.

Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas, wajahnya yang begitu menghayati musik yang ia mainkan. Tanpa kusadari aku mengulumkan senyum tulus ke arahnya.

~

Keakraban pun mulai terjalin sejak saat itu.
Tidak ada lagii kecanggungan yang kurasakan saat kami sedang berdua. Bahkan kami menjadi sering mengontak satu sama lain.

Key juga sering mengajakku bercanda. Kadang kami juga sering pulang bersama. Aku juga tidak tahu mengapa kami berdua bisa jadi akrab begini setelah kejadian itu. Aku hanya membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Kuterima dengan pasrah apa yang akan menjadi takdirku nanti.

Dua bulan lagi, tak terasa sebentar lagi kami akan dihadapkan dengan ujian akhir. Siang malam aku selalu giat belajar. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi T.T

Seperti yang kukatakan tadi, setiap saat aku selalu menyempatkan waktu untuk belajar. Ya, seperti sekarang ini. Aku sedang berada di perpustakaan.

Kuedarkan pandanganku menelusuri ruangan ini. Hanya ada 1 orang lyang duduk di bagian ujung dan 1 orang lagi yang duduk membelakangiku.

Hmm, baiklah. Ini berarti tidak sia-sia aku menyempatkan waktuku ke sini. Jarang-jarang aku dapat ke sini, itu juga kalau tidak malas lagipula aku selalu menghabiskan jam istirahatku dengan Jieun dan Luna.

Saat sedang asik menelusuri rak-rak buku, langkahku tiba-tiba terhenti begitu melihat sosok yang dapat langsung menyita perhatianku seketika.

Alih – alih melanjutkan mencari buku, aku malah memilih melupakan tujuanku kemari. Seakan ada magnet yang terus menarikku, aku malah berjalan mendekatinya, yang sedang membaca buku sambil berdiri menyandar pada rak buku di belakangnya yang terletak di sudut ruangan.

Seperti ada yang menyadarkanku untuk segera kembali ke kenyataan, aku tersentak menyadari apa yang akan kulakukan. Bukannya malah menghampirinya aku hanya dapat berdiri mematung dengan memandanginya.

Tak dibutuhkan waktu lama untuk akhirnya ia sadar dengan kehadiranku. Ia mengalihkan pandangannya dan tersenyum padaku setelah ia menaruh buku yang telah ia baca itu. Aku membalasnya dengan senyuman kecil.

“ Annyeong. Raebyung-ah, sedang apa kau disini? Biasanya yang kulihat kau selalu bersama Jieun dan Luna saat jam istirahat. “

“ Annyeong. Ah, awalnya aku mampir ke sini ingin mencari buku tentang teori mikroekonomi tapi tanpa sengaja aku melihatmu. Tadi aku hanya ingin menghampirimu untuk mengajak berlatih bersama untuk tes nanti. Hhehe. “

“ Ah..benar juga. Aku hampir saja lupa jika kau tidak mengingatkanku. Hmm, baiklah kalau begitu. Kajja. ”

~

Ketika kami memasuki kelas sehabis latihan tadi, kami langsung berjalan terpisah ke arah yang berlawanan. Aku berjalan menuju kursiku, sedangkan ia pergi menghampiri kedua temannya. Siapa lagi mereka, yah kalau bukan Jonghyun dan Minho.

Sejak Key dan Minho masuk kelas ini, mereka-Jonghyun-Key-Minho-membentuk semacam geng yang menurut berita yang kudengar, mereka itu seperti penguasa sekolah—di Sekolah Chuseok High School ini. Ketiganya sama-sama dari kalangan high class, jelas aku mengetahuinya. Entahlah, yang jelas setiap harinya yang kulihat mereka selalu dikerumuni oleh yeoja-yeoja.

Hei, lagipula siapa yang peduli, aku juga tidak merasa cemburu. Key pernah bilang ia tidak terpengaruh dan hanya menganggap mereka itu hanya fansnya saja. Aish, terserah saja, pokoknya aku tidak mau tahu apapun.

“ Hei, kenapa melamun? Aigoo, kau sedang memikirkan siapa eum ?! “
Tiba-tiba saja Jieun muncul dihadapanku yang membuatku sedikit terlonjak kaget. Cck, awas saja kau Lee Jieun-ya akan kubalas lain kali.

“ Aniya.. Aku hanya bosan menunggu kalian. Darimana saja huh? Eh.. mana Luna ?“ jawabku sambil berusaha mengalihkan perhatiannya. Jika dia sudah penasaran dengan suatu hal, ia pasti akan cerewet minta diberitahu nantinya.

“ Mm, Sunyoung-ah? Dia bilang dia sedang ada urusan mendadak, baru saja dia ijin pulang tadi. Eh, Raebyung-ah nanti temani aku mencarikan hadiah untuk Thunder, oke ?! “

“ Euh? Sepertinya aku tidak akan sempat Jieun-ah. Mianhae, sepulang sekolah nanti aku harus belajar untuk ujian nanti. “

“ Ayolah Raebyung-ah, hanya untuk kali ini saja temani aku, ya? Nanti aku akan mentraktir es krim coklat kesukaanmu. Eotthe? Jebal…ayolah. ”

“ Jinjjja? Demi es krim coklat, baiklah… “
Jieun melonjak kegirangan ketika kuiyakan ajakannya. Ia hanya tertawa geli melihat ekspresi wajahku yang terlihat pasrah.

###

Author POV

“ Hah, akhirnya aku bisa beristirahat sekarang. Ah, lelah sekali. Badanku serasa pegal semua padahal tadi hanya menemani Jieun saja. “

Raebyung baru saja selesai membersihkan diri dan sekarang ia sedang berbaring di tempat tidurnya. Baru saja ia menutup matanya, merasa terganggu dan risih ibeberapa kali Raebyung bolak-balik posisi tidur.

Tak kunjung merasakan kantuk ia kembali membuka matanya sambil berdecak kesal. Entah kenapa ia benar-benar merindukan seseorang. Merasa ingin sekali mendengar suaranya.

“Ya, ya! Apakah aku mengkhawatirkannya ? Tapi.. tidak biasanya ia belum mengontakku sama sekali. Ahh, mollaseo.” Raebyung kembali memejamkan matanya. Mencoba bersikap tidak peduli dan tidak ambil pusing masalah ini. Tapi sesekali ia kembali mengecek ponselnya untuk memastikan ada panggilan/pesan yang masuk dan membuat Raebyung kembali terjaga. Ia hanya dapat menatap layar ponselnya penuh harap dan melupakan rasa lelahnya tadi.

“ Apa yang sedang dia lakukan ya? Hmmm.. “ Tanpa sadar ia bergumam seperti itu sambil membayangkan wajah Key dan senyumannya yang menurut Raebyung mempesona itu. Perlahan-lahan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman di wajahnya. Ia kembali mengingat kejadian lucu yang terjadi hari ini.

– Flashback –

Raebyung sedang berjalan santai sambil bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang ia dengar dari earphone putih MP3 miliknya.

Saat ini sekolah masih terlihat lenggang dan sepi. Ia sengaja datang lebih awal dari pagi-pagi biasanya agar dapat berjalan – jalan sambil menikmati suasana pagi hari di lingkungan sekolahnya ini.

Hal yang jarang sekali bisa Raebyung lakukan karena biasanya ia pasti selalu datang terlambat akibat malas atau memang terlalu lelah untuk bangun tepat waktu. Raebyung terkekeh pelan ketika mengingat kebiasaannya itu.

Ia mengeratkan kembali jas sekolah yang ia kenakan karena angin kembali berhembus kencang, walaupun begitu ia tetap merasa dingin karena sekarang baru memasuki musim gugur yang dingin ini.

Raebyung berdesah sambil mengusapkan kedua telapak tangannya untuk menghangatkannya. Di saat-saat seperti ini ia malah lupa untuk memakai jaket/sweater yang tebal. Ia berdecak kesal ketika mengingat kecerobohannya itu. Ya sudahlah mau tak mau ia harus merasakannya.
Melihat ada bangku taman yang kosong Raebyung memilih untuk mendudukan dirinya di sana. Raebyung mengedarkan pandangannya menatap keadaan disekitarnya.

Dedaunan berwarna coklat dan hijau kekuningan perlahan berguguran di sekelilingnya. Raebyung menarik nafasnya perlahan, terlihat bahwa ia menikmati pemandangan itu. Terlihat sangat indah menurutnya. Matanya juga tampak berseri-seri. Raebyung memang sangat menyukai musim gugur sejak dulu.

Sibuk melihat keadaan di sekitarnya, Raebyung tidak menyadari sedari tadi ada yang terus memperhatikannya. Orang itu duduk di sebelah Raebyung lalu usil menarik earphone yang sedang Raebyung pakai. Membuat Rabyung menoleh ke arahnya dan mendesah kesal. Merasa jengkel ada yang menginterupsinya.

“Sedang apa kau disini?“ tanyanya ketus sambil menatap malas ke arah Key.

“ Hanya sedang berjalan-jalan saja. Ah, memangnya tidak boleh aku datang ke sini juga ?! Hei, sepertinya kau tidak dalam situasi yang baik saat ini. Ya sudah kalau begitu aku minta maaf, tuan putri. “ ucapnya menanggapi perkataan Raebyung dengan evil smirk andalannya sambil menatap lurus ke arah lapangan.
Raebyung hanya mendengus kasar sambil menggembungkan pipinya, ia merasa kesal dengan julukan yang selalu Key katakan setiap kali Raebyung berubah menjadi menyebalkan.

Ada-ada saja tingkah mereka berdua, kadang bertengkar seperti anak kecil seperti ini. Kadang keliatan sangat akrab seperti tidak dapat dipisahkan.

“Ini. Kurasa kopi ini cukup membuatmu merasa hangat di cuaca seperti ini.”

Key menyodorkan kopi itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Raebyung. Keduanya masih keras kepala untuk berbaikan.

“ Ehem.. Gomawo. “

Merasa jengkel karena tidak dihiraukan Raebyung hanya meliriknya sambil menyesap kopinya perlahan. Key juga ikut menyesap kopi miliknya dan tetap bergeming masih belum mengalihkan pandangannya.

Hahh, memang Raebyung merasa lebih baik sekarang. Setelah dipikir-pikir ini semua memang berkat kebaikan Key. Ia berpikir tidak seharusnya ia marah dan merasa jengkel pada Key.

“ Hei,, sampai kapan kita akan bertengkar terus seperti ini? Kupikir kita amat sangat kekanakan. “ ucap Raebyung sambil menatap menerawang. Ia tersenyum tipis ketika mengingat mereka hanya bertengkar akibat masalah kecil saja. Ia tertawa renyah sambil menunggu respon dari Key.
Tak lama kemudian Key melirik ke arahnya dan ikut menertawai kekonyolan mereka berdua.

“Haha.. Mmm, begitukah?“ Key memiringkan kepalanya sambil mengerutkan kedua alisnya. Tampak seperti ia benar-benar berpikir lalu ia menatap ke arah Raebyung sambil tersenyum menyetujui.

“ Keudae. Ah, Kibummie, tumben sekali aku tidak melihatmu dikerumuni oleh yeoja-yeoja fansmu. Shh, biasanya kan seperti itu. “
“ Chogi, aku mendengar kau terkenal sebagai seorang playboy, benarkah itu? Aigoo, dari kabar yang kudengar selama 1 minggu ini kau sudah memacari 3 orang yeoja. Wah, jinjja daebak. “

“ Mwo? Ya! Lelucon macam apa yang kau katakan tadi? Play..Boy?! Ya! Kemari kau. Darimana kau bisa mengetahui hal semacam itu hah? Coba kau katakan lagi! ”

“ Playboy! Playboy! Hahaha.. aku benar-benar tidak menyangka Key-ah. “ Ledek Raebyung sekali lagi. Ia masih sempat menggoda Key sambil mehrong ke arahnya lalu sebisa mungkin lari dari kejaran Key.

Raebyung tahu ia pasti akan mendapat jitakan keras di kepalanya jika sebelumnya ia tidak cepat beranjak mengambil langkah seribu untuk terhindar dari amukan Key.
Ia pikir ini semua sangat mengasyikan. Sejak tadi Raebyung tertawa mengejek sambil berlari dari Key. Mereka berdua tampak sangat serasi jika seperti ini.

Key tersenyum puas ketika akhirnya ia bisa menangkap Raebyung dalam rengkuhannya. Mereka berdua kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dimana Raebyung berada di atas Key. Keduanya saling bertatapan lalu tertawa lepas menertawai kekonyolan mereka tadi.

Nafas keduanya masih terengah-engah akibat kejar-kejaran tadi. Raebyung lalu ikut berbaring di sebelah Key. Mereka berdua terjatuh di antara tumpukan dedaunan yang berguguran itu. Sebelah tangan Key masih menggenggam erat tangan Raebyung. Tidak berniat untuk melepaskannya.

Key menarik nafas perlahan diikuti dengan Raebyung. Key juga terlihat menikmati musim gugur ini. Walaupun cuaca sangat dingin mereka berdua malah tampak merasa nyaman. Terasa lama bagi mereka untuk bertahan dalam posisi seperti itu.
Lalu mereka berdua akhirnya bangkit dan duduk berhadapan. Terpikir oleh Key untuk memberi sedikit pelajaran pada Raebyung.

Key mengarahkan tangannya yang bebas ke puncak kepala Raebyung. Ia mengacak-acak rambut Raebyung lalu menjentikan sentilan yang cukup keras di dahinya. Key tersenyum jahil ke arah Raebyung.

Raebyung meringis ketika mendapati jitakan itu. Merasa tidak terima, ia membalasnya dengan memberikan pukulan keras di sebelah lengan Key. Mereka kembali tertawa bersama dan tampak menikmati kebersamaan yang dirasakan oleh keduanya.
Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai dengan masih diiringi oleh tawa mereka.

– Flashback End –

Raebyung akhirnya terlelap dengan masih menggenggam ponselnya, rasa lelah dan kantuk akhirnya benar-benar menguasainya. Dalam hatinya ia merasa hari esok telah menunggunya.

~

Pagi-pagi sekali Raebyung sudah bangun untuk menyiapkan bekal. Ia sengaja membuatnya untuk bisa makan bersama dengan Key.

Senyum Raebyung mengembang, ketika mengingat Key sangat menyukai masakan Gimbap* buatannya. Dengan mahir ia memotong satu per satu Gimbap itu lalu menyusunnya dengan rapi di dalam kotak bekal yang telah disiapkannya.
(*Gimbap : Nasi Gulung / Nasi Rumput Laut. Masakan khas Korea Selatan yang terbuat dari nasi yang dibalut dengan rumput laut kering dengan isinya yang bervariasi seperti sayuran, telur goreng, ikan dan sosis.)

“Hmm.. selesai. Aku tak sabar membayangkan bagaimana reaksinya ketika melihat kejutanku ini. Semoga ia menyukainya…“

~

Saat bel istirahat telah berbunyi Raebyung langsung berjalan menuju ke arah kantin. Ia berencana akan memberikan bekalnya itu di sana. Raebyung tersenyum ketika melihat Key yang tengah berjalan memasuki kantin yang diikuti oleh Jonghyun dan Minho.
Baru saja Raebyung berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Key, senyumnya memudar ketika melihat yeoja yang bernama Baek Suzy itu menghampiri Key terlebih dahulu. Ia melihat Suzy juga memberikan kotak bekalnya pada Key. Key menerimanya dengan senyum tulus.

Raebyung merasa kecewa dan sedih, ia langsung pergi dari situ tanpa menoleh lagi sambil membawa bekal yang telah susah payah dibuatnya itu.

Raebyung terduduk lemas di bangku taman. Ia menatap sedih ke arah Gimbap itu lalu Raebyung membukanya sambil tersenyum kecut. Ia benar benar kecewa, kalau tahu begini ia memilih untuk tidak membuatnya. Raebyung mengambil beberapa Gimbap lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. Ia memejamkan kedua matanya, mencoba tidak mengingat kejadian tadi sambil mengunyah Gimbap itu dengan perlahan.

Raebyung menghembuskan nafas panjang lalu menatap masakannya itu. Rasa kesal tiba-tiba menyelinap di hatinya. Sekali lagi ia menghembuskan nafas dan mencoba untuk menghabiskan semuanya sendirian.

###

Raebyung POV

Sejak kejadian minggu lalu itu, aku jarang menghabiskan waktu bersama dengan Key, bisa dikatakan aku yang menjauh darinya. Sering kali kami berpapasan di koridor sekolah, saat di kelas pun ketika tidak sengaja bertemu aku cenderung tidak akan menyapanya. Waktuku sekarang lebih sering dihabiskan bersama Jieun dan Luna seperti dulu. Aku juga selalu menyempatkan waktu untuk belajar supaya bisa mengalihkan pikiranku dari memikirkan Key. Pffftt, sungguh melelahkan.

Hari ini seperti biasa, dengan tampang lesu dan tidak ada semangat sama sekali aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam kelas. Aku berjalan menghampiri Luna lalu mendudukan diriku di sebelahnya sambil menaruh tas bawaanku. Tampaknya ia sedang tertidur, ia meringkuk di meja dengan wajahnya yang ditutupi kedua lengannya.

Setelah menoleh ke meja di belakangku, aku baru sadar kalau Jieun belum datang. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk datang pagi sekali. Sepertinya ia tidak akan masuk hari ini.

Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponselku. Saat kuaktifkan ada 1 pesan yang masuk. Aku menghembuskan nafasku, cukup merasa risih saat melihat namanya.

Sender From : Key
Pulang sekolah nanti temui aku di gerbang sekolah.
Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.

Eotteokhe? Apa aku harus menemuinya?

~

Aku berjalan terseok-seok, dengan enggan aku melangkah menuju ke arah gerbang sekolah. Aku berjalan diiringi oleh Luna. Sudah beberapa kali aku mengeluh, jujur aku merasa sedikit malas untuk bertatapan muka langsung dengannya. Menanggapi keenggananku Luna tersenyum menyemangati sambil menepuk bahuku sekaligus memberikan semangat.

“ Hah, baiklah. Sepertinya aku memang harus bertemu dengannya. Aku merasa cukup lelah untuk terus menghindarinya Luna-ya. “ Aku menoleh ke arah Luna sambil menarik nafas berat.

“ Raebyung-ah, jangan mengeluh lagi seperti itu. Aku yakin tidak akan terjadi hal buruk jika kau menemuinya. Ayo fighting! “ ucap Luna untuk meyakinkanku. Ia juga mengepalkan sebelah tangannya di udara, sekali lagi untuk menyemangatiku.

Aku melambai kearahnya sambil tersenyum menenangkannya untuk tidak mengkhawatirkanku. Setelah Luna membalasnya, aku berbalik dan dapat kulihat Key yang memperhatikanku. Ia tampak menungguku sambil bersandar pada motor white sport miliknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja, yakinku. Ia tersenyum begitu aku sudah berada di hadapannya.

“Pakai jaket ini. Udara saat ini sangat dingin,aku takut nanti kau akan sakit.“

Awalnya aku ingin menolaknya tapi sebelumnya ia sudah memakaikan jaketnya itu padaku. Ia mengulurkan tangannya umtuk membantuku naik. Aku hanya menyambutnya sambil menyunggingkan senyum tipis.

~

“ Key, kita ada di mana sekarang? ” tanyaku penasaran setelah ia mematikan mesin motornya. Ia hanya menatapku tersenyum.

“ Nanti kau akan tahu sendiri. “ jawabnya singkat. Aku menatap ke sekelilingku, sekali lagi mengedarkan pandanganku. Disebelah kanan dan kiriku hanya tampak pohon-pohon mapple yang berdiri kokoh. Tampaknya ini seperti mengarah ke sebuah taman.

Aku merasakan seperti aku pernah datang ke sini sebelumnya. Tapi.. entah kenapa aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Apa itu hanya perasaanku saja?

Key berjalan menuntunku, ia menggenggam tanganku erat seperti tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang dimaksudkannya. Sejauh ini kami hanya berjalan lurus masih dikelilingi pepohonan lebat sampai dapat kulihat pemandangan yang terlihat sangat indah yang terbentang di hadapanku.

Aku tersenyum lebar, aku pikir ini semua terlihat mengagumkan. Aku seperti dapat melupakan beban yang selama ini kurasakan.

“Apa kau menyukainya?” tanyanya padaku.
Aku mengerling ke arahnya dan senyumku kembali mengembang. Aku mengangguk mengiyakan. Ia membalas senyumku lalu kembali menatap lurus ke arah danau.
“ Kurasa kita sependapat Rae-ah. Ini semua memang keliatan sangat indah.
Tapi ada hal lain yang menjadi tujuan utamaku mengajakmu kemari. Akan kutunjukan padamu. “ lanjutnya. Aku menaikkan sebelah alisku. Apa maksudnya?

Segera kusejajarkan langkahku mengikutinya. Aku cukup penasaran dengan semua ini, tepatnya kemana dia akan membawaku.
Key berjalan menuju sebuah bukit yang membentang di sisi kanan danau. Ia membantuku untuk mencapai puncak bukit itu. Setelah berhasil sampai, dapat kulihat sebuah pohon yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan beberapa langkah akhirnya kami bisa sampai tepat di depan pohon itu. Aku semakin merasa tidak asing dengan tempat ini.

“ Apa kau masih ingat dengan taman ini? Kau tahu, dulu kita amat sering berkunjung ke sini. Bersama eomma mu yang selalu menemani kita berdua. Melakukan piknik, bermain atau sekedar melihat pemandangan di sini. “

“ Benarkah? “ Pantas saja aku merasa tidak asing dari awal, ternyata begitu. Aku hanya menganggukan kepalaku. Key masih menatapku, senyum pun masih terlukis di wajahnya. Aku masih mencoba untuk mengingat semua hal itu. Melihat ekspresi wajahku yang kebingungan, ia mencba menunjukan hal lainnya padaku.

“ Kemarilah. ” Aku berjalan mendekatinya. Ia tengah berjongkok sambil menatap ke arah batang pohon mapple itu. Setelah kuamati lebih jelas ternyata di situ ada sebuah ukiran yang masih terlihat jelas di kulit batangnya. Aku ikut berlutut di sebelahnya. Kusentuhkan jemariku di ukiran itu dengan hati-hati.
Ukiran itu terlihat seperti tulisan yang membentuk huruf K + R =
Senyum lebar kembali mengembang di wajahku, kali ini aku dapat mengingat semuanya. Ketika aku terjatuh, Key menjagaku dan menggendongku di punggungnya, seolah menenangkanku. Ia yang selalu menghiburku saat aku sedang menangis tersedu-sedu.
Kami berdua tertawa bersama sambil berpegangan tangan…
“Aku dapat mengingatnya..Semua itu hampir terlupakan begitu saja di dalam memoriku..” sahutku ketika kita sedang duduk bersandar pada pohon mapple itu. Tiba-tiba Key menyandarkan kepalanya di puncak bahuku. Ia memejamkan matanya, keliatan seperti menikmati angin semilir yang terasa sejuk menerpa kulitnya. Saat aku akan beranjak, Key menahanku untuk tetap seperti ini.
“ Raebyung-ah, apakah kau tahu bahwa selama ini aku menyukaimu dan menyayangimu? Ani, sebenarnya malah aku benar-benar mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku merasakan kehangatan di hatiku, aku langsung jatuh cinta pada sepasang mata coklat yang menatapku teduh. Han Raebyung, kau sangat berarti bagiku. “ Tubuhku membeku mendengar ucapannya itu. Apa Key sedang mabuk sampai dia bisa berbicara seperti itu padaku?

“ Saranghae”, lanjutnya.

-TBC-

Author : Luciana Christin N. @Christincn

Main Cast :
• Han Rae Byung
• Kim Kibum(Key SHINee)

Genre : Romance

Length : Chaptered

Background Song : Superjunior – Andante
(Lagu ini memang yang feelnya kerasa banget. Lagunya patut diputer berulang-ulang sambil baca fanficnya. Hehe)

Note : Annyeong! This is my first fanfic.. Maaf sebelumnya kalau masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Storyline dari ff ini murni dari pemikiran kerja kerasku. Hehe,hope you’ll be like this story. Happy Reading!^^

Apa mungkin semua ini sudah ditakdirkan?
Rasa ini.. Apakah kau dapat mengetahuinya?

###
_ Prolog _

Perempuan itu termenung sendirian, dilingkupi kesunyian yang ada yang hanya dapat menambah sakit dan rapuhnya hati itu.. Belaian angin dan daun-daun yang berguguran di taman itu seakan menemaninya.. Ia berbisik pada kesunyian, apakah waktu dapat berputar kembali memanggil dia dalam rengkuhannya. Tawanya seakan ikut menguap dengan kepergiannya, yang hanya dapat menyisakan kepedihan. Memori yang selalu ia coba lupakan.. ketika semuanya berawal.

Rae Byung POV

“ Kim Ki Bum…“

Nama itu tiiba – tiba terlintas di benakku, ketika melihat sosoknya yang tegap dan berperawakan tinggi itu, saat melihatnya tengah bermain basket bersama teman – temannya.

Sedari tadi aku terus mengamatinya dari ruangan musik ini, yang dapat terlihat jelas melalui kaca besar yang menghadap langsung ke arah lapangan.

Dapat kulihat melalui sudut mataku, namja itu sedang menggiring dan memasukkan bola ke dalam ring basket.

Dia adalah teman semasa kecilku. Dulu kami sangatlah dekat sampai kami pernah berjanji akan terus bersama selamanya.

Ya, memang janji masa kecil semacam itu sekarang terdengar konyol. Ketika kita beranjak dewasa, hal – hal kecil yang berarti seperti itu kadang dianggap sangat kekanakan.
Hhhh, bogoshippoyo, desahanku diikuti dengan tarikan nafas panjang.

Kupejamkan mataku. Kuingat ketika dia melindungiku dari anak – anak yang sering mengejekku saat masa kanak – kanak dulu.

Dia yang selalu berusaha menjagaku disaat aku kedinginan dan sendirian. Sekarang, aku merasa sangat kehilangan sosoknya, yang dulu menyenangkan itu juga dengan pribadinya yang hangat.

Entah kenapa, sekarang seperti ada jarak yang memisahkan kita berdua. Jadinya kami menjadi sangat asing satu sama lain.

Aku tersenyum miris ketika mengingat kenyataan itu.
Mataku terasa panas, tak terasa buliran cairan bening keluar melalui sudut mataku.

Kenapa menyukaimu terasa sangat menyesakkan, mengingat aku hanya dapat menyimpannya rapat – rapat dalam hati. Aish,aku benci pada diriku sendiri.

Perlahan kulangkahkan kakiku menuju sudut ruangan, di mana di situ terdapat sebuah grand piano putih yang terlihat elegan.

Kududukan badanku di kursi yang berwarna senada itu. Mencoba merefleksikan semua kesedihanku, dengan alunan melodi yang selalu dapat menghanyutkan kepedihan yang kurasakan.

###

Author POV

Di luar matahari sudah bersinar terik, menerbitkan cahayanya. Gadis berambut lurus sebahu itu masih tertidur nyenyak dengan masih bergulung dengan selimut tebal ranjangnya. Hmm, ia masih sibuk berselancar dalam dunia bawah sadarnya.

Kriingggg… Kriingggg…

“ Mmm,, berisik sekali sih. ”
Dalam keadaan setengah sadar, matanya menyipit ke arah jarum jam sambil berusaha mematikan alarm yang berisik itu.

Samar-samar terlihat olehnya jam yang menunjukan pk 07.00, sejurus kemudian ia tersentak dan langsung tersadar akan sesuatu.

“ Jam 07.00. Omo, aku akan terlambat. “ sontak akhirnya membuat raebyung bangun dari tempat tidurnya.
Sambil berjalan agak timpang, ia bergegas keluar kamar, menyambar handuknya lalu masuk ke kamar mandi.

Sibuk mengancingkan seragamnya, dasi yang digigit sambil memakai kaus kaki dan menyisir sekaligus dalam waktu 3 menit, lalu memasang sepatunya dengan cepat dan berlari menuju meja makan.

Setelah menghabiskan rotinya dengan sekali lahap dan meminum susunya dengan cepat. Ia menyempatkan untuk menyapa umma dan appanya.

“ Selamat pagi.. appa, umma. Aku berangkat dulu, annyeong ! “

“ Pagi.. Ne, hati-hati di jalan. ” Sahut mereka bersamaan.

~

“ Hosh.. Hosh.. untung saja, hah. Aku bisa sampai tepat waktu. Aigoo, lelah sekali. “ Raebyung dapat bernafas lega sekarang. Ia berhasil sampai di kelasnya dengan selamat, syukurlah.

Beruntung tadi ia tidak tertangkap oleh guru piket yang terkenal sangat galak di sekolahnya. Fiuh.

Beruntungnya juga tadi begitu sampai di tempat pemberhentian, sebuah bus berhenti tepat di depannya. Dewi fortuna memang sedang berpiihak padanya, sehingga keadaan raebyung sekarang benar-benar tertolong.

###

Rae Byung POV

Oh, annyeong haseyo! Joneun Han Rae byung imnida, bangapseumida 
Sekarang aku sudah memasuki tahun ketiga di Chunseok High School Seoul.

Awalnya aku memang tidak mempunyai banyak teman, karena aku bukan orang yang bisa langsung merasa nyaman dengan orang-orang yang baru kukenal. Tapi bukan berarti aku antisosial, hanya saja aku lebih suka menyendiri.

Hei, tapi aku juga mempunyai sahabat, mereka adalah Jieun dan luna. Haha, bisa dibayangkan, tanpa mereka hidupku pasti akan membosankan. Hmm, baru saja aku membicarakannya, mereka sudah muncul di hadapanku.

“ Aigoo. Hei, kau habis darimana? Lari marathonkah?! Haha, lihat, kau seperti habis mandi keringat begitu. “ ucap Luna ketika aku baru saja duduk di kursiku.

Jieun hanya menanggapinya dengan anggukan setuju. Tatapan mereka bertanya-tanya dengan apa yang sudah kulakukan ketika melihat keadaanku sekarang. Belum sempat aku menjawabnya, Jieun sudah melontarkan pertanyaan lain.

“ Raebyung-ah, kenapa kau bisa-bisanya terlambat ?! “

“ Cck. Kalian cerewet sekali. Masalah itu nanti akan kujelaskan pada kalian. Ehm.. tunggu, memangnya ada apa ? “ sahutku menanggapi.

“ Kau tidak tahu ? “

“ Memangnya kenapa dengan hari ini ? Hei, ayolah Luna-ya jangan membuatku penasaran, kalian cepat beritahu aku. “

“ Ne. Menurut gosip yang beredar, mulai hari ini Kim Kibum dan Choi Minho akan masuk ke kelas anak berbakat. “

“Mwo ?“ Kedua mataku sontak terbelalak kaget saat Luna memberitahukannya. Jadi, aku akan sekelas dengan Key ?

Aish, shireo. Apa yang akan aku lakukan nanti ketika aku bertemu dengannya, eotteokhe?!

Oke. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya. Berpura-pura seperti tidak mengenalnya.

“ Omo.. Itu mereka. “ Ucapan Jieun itu seketika langsung membuyarkan lamunanku, kutolehkan kepalaku ke arahnya yang baru saja memasuki kelas. Apakah mereka memang memiliki pesona yang yang luar biasa seperti itu ?

Eh? Apa yang kupikirkan tadi? Ku gelengkan kepalaku untuk cepat sadar dari pemikiranku yang aneh tadi.

Seiring dengan langkah mereka, terdengar decakan kagum bahkan ada yang sampai histeris ketika melihat mereka. Oh ya ampun, kupikir itu berlebihan. Dengan malas kukeluarkan tugas-tugasku yang belum sempat kuselesaikan, tanpa menghiraukan lagi kehadiran mereka. Pasti sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Tak kuhiraukan juga, Jieun dan Luna yang pasti sekarang mereka berdua sedang bergosip ria. Ckckck.

Esok harinya…

“ Selamat pagi semua. Ne, kita bertemu lagi di kelas musik kali ini. Perhatikan, sebelum kita memulai pelajaran seonsaengnim ingin menyampaikan pengumuman penting yang harus kalian ketahui. “ ucap Wang Fei seonsaengnim sambil tersenyum ramah pada kami saat akan memulai pelajaran.

“ Tugas akhir kalian untuk pelajaran musik adalah menyanyikan sebuah lagu berbahasa inggris. Kalian akan menyanyikannya dengan pasangan kalian masing-masing. “
“ Untuk pasangannya, aku sudah memangsangnya di setiap upright. “ lanjut seonsaengnim , guru musik yang genap berusia 25 tahun itu.

Refleks, aku langsung mencarinya. Mataku langsung tertuju pada bagian kanan atas upright yang sudah tertempel kertas di situ.

Mwoya?! Apa aku tidak salah lihat? Kuperjelas lagi penglihatanku dengan menyipitkan kedua maraku.

Rae Byung, Han
Ki Bum, Kim

Ya! Ige mworago ? Wae gurae ?! Aish, aku benar-benar tidak terima.
Kenapa pasanganku harus DIA ?? Menyebalkan.

Dari jarak yang cukup dekat, hanya dibatasi 2 orang di sebelah kiriku, aku dapat melihatnya, yang masih menatap ke arah kertas-nama-pasangan itu.
Tiba-tiba terlukis seulas senyum di wajahnya. Hei, kenapa dia menyeringai seperti itu? pikirku bingung sambil menaikkan sebelah alisku.

Ketika ia merasakan ada yang memperhatikannya, detik berikutnya, pada saat itu kedua tatapan kami bertemu. Kurasakan kami bertatapan intens seakan-akan ingin memahami tatapan masing-masing.. Aku masih mencoba mengerti apa arti senyum itu.

T B C

Enjoy watching!! 🙂

Source : youtube

Tag:
Tag:

Arsip

The Author

WELCOME TO MY WORLD : SM & YG Family