My pure imagination..

Someone Like You (Part 3)

Posted on: 30 Mei 2012

Author : Luciana Christin N. / @Christincn

Main Cast :
• Han Raebyung
• Kim Kibum (Key SHINee)
• Lee Jinki (SHINee)

Genre : Romance, Conflic, Friendship

Length : Chaptered

Note : Annyeong Readers!
FF Someone Like You ini, author pgn ngejlsin kalau part 1 dan 2 itu full flashbask. Kalau bingung, di bca lgi prolog di part 1 biar lebih jelas bca yang part ini. Comment ya~ Hal itu bisa buat author jadi lebih semangat lho. Hope you’ll be enjoy the story!!

Preview from Part 2

“Raebyung-ah, apakah kau tahu bahwa selama ini aku menyukaimu dan menyayangimu? Ani, malah aku benar-benar mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu, aku langsung merasakan kehangatan di hatiku. Aku langsung jatuh cinta pada sepasang mata coklat yang menatapku teduh. Han Raebyung, kau sangat berarti bagiku.“

Tubuhku membeku mendengar ucapannya. Apa Key sedang mabuk sampai dia bisa berbicara seperti itu?

Kupalingkan pandanganku. Perasaanku campur aduk. Rasanya aku sangat bahagia sekarang.

“ Saranghae”, lanjutnya.

Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Aku segera menoleh ke arahnya.

“Kibum.. Kau tidak sedang bercanda kan? Maksudku kau.. apakah sungguh-sungguh dengan ucapanmu ?!“ tanyaku memastikan.

Key berdeham dan menegakan kembali tubuhnya. Ia memalingkan wajahnya untuk menatapku. Tubuhku terasa kaku ditatapi oleh sepasang mata eclipse yang memandangku dengan tajam itu. Aku balas menatapnya, masih menunggu apa yang akan ia katakan.

“Tentu saja, aku tidak sedang bercanda Raebyung-ah. Dengar, aku tidak akan mengulanginya lagi. Saranghae.. Be my girlfriend ?“ tanyanya serius.

Ha? Apa yang tadi Key katakan?

Kurasakan jantungku yang berdetak dengan cepat.
Apa yang harus kulakukan sekarang?!

“N..Ne.“ jawabku gugup. Aku menganggukan kepalaku cepat sambil tersenyum kikuk. Melihat tingkahku Key hanya mengulumkan senyumnya.

Apa aku pernah merasa sebahagia ini? Demi Tuhan aku benar-benar ingin menangis sekarang.

Key memelukku dan aku langsung menyambutnya. Sedari tadi senyum lebar masih tidak lepas di wajahnya¬¬¬.

Aku… ingin kita selamanya seperti ini, Key.
.
.

Aku masih ingat di saat-saat kita masih bersama dulu. Kaulah yang selalu dapat kuandalkan kapanpun itu, kau selalu melindungiku.
Ketika kita saling berbagi semua kesenangan dan kesedihan..

Tapi ketika mengingat semua kenangan masa lalu itu terasa sangat menyesakkan. Semuanya masih terpatri jelas dalam ingatanku, walaupun sekarang aku sudah menginjak 22 tahun. 4 tahun yang lalu, kau meninggalkanku begitu saja, tanpa memberitakan kabar apapun.
Kita kehilangan kontak selama itu…

Aku tidak pernah tahu dimana keberadaanmu sampai sekarang. Kau menghilang begitu saja. Apa kau tahu aku sudah lelah menunggumu untuk kembali.

Tapi aku menyadari satu hal. Mungkin suatu hari nanti takdir yang akan mempertemukan kita. Di saat kau akan muncul kembali di dalam kehidupanku.
Ya, aku tahu semua itu tidak dapat kuhindari lagi.

Author POV

Seoul, South Korea
21.05 KST

Raebyung melangkah perlahan di sudut jalanan kota Seoul. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan tas tangan berwarna coklat. Raebyung memperhatikan sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana musim panas di ibukota Korea Selatan itu.

Jalanan pun masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil yang berlalu lalang. Benar-benar tampak seperti kota gemerlap yang berkembang pesat sampai sekarang ini.

Raebyung merasa terlalu lelah sekarang. Bagaimana tidak, ia harus lembur di kantornya sampai selarut ini. Tadi padi saja ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, belum lagi hari ini ia sudah bekerja keras mengerjakan bahan untuk rapat besok.

Untung saja Jinki, salah satu partner kerjanya segera membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya. Meskipun melelahkan tapi Raebyung pikir ini semua memang pilihannya. Menjadi seorang sekretaris direktur di Perusahaan Co-Ed dan sudah 2 tahun ia bekerja di sana.

Ia menghembuskan nafas panjang dan mengerutkan kening. Tiba-tiba Raebyung merasa kepalanya pusing. Sepertinya ia memang harus segera sampai di apartemennya untuk cepat beristirahat. Raebyung memutuskan untuk menaiki taksi saja, ia tidak kuat untuk berjalan lebih jauh lagi untuk menaiki bus. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir lagi.

Sesampainya ia di apartemennya, Raebyung langsung menghambur ke kamarnya. Tasnya ia letakkan sembarangan. Walaupun terasa lapar, ia tidak memedulikannya. Segera setelah membersihkan diri, ia langsung berbaring, rasa kantuk dan lelah segera membuatnya tertidur terlelap.
.
.

Raebyung terbangun dengan bunyi dering ponsel yang terus berdering sedari tadi. Cahaya matahari menembus masuk melalui celah-celah tirai kamarnya terasa menusuk matanya.

Ia bergumam tidak jelas dan menggeliat di dalam selimutnya. Matanya membuka perlahan, terasa berat. Dering ponsel yang berisik itu masih terdengar olehnya.

“Oh, baiklah.“ Raebyung bergumam. Ia berjalan ke luar kamar dan menemukan tasnya di atas sofa. Raebyung mengaduk-aduk isi tasnya.
Ha, ketemu. Ia segera mengangkat telepon itu.

“Yoboseo?“
Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

“Yoboseo? Siapa ini? Silakan bicara..”
Raebyung baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu menjawab.

“Maaf.. Apakah benar ini ponsel Raebyung?“
Siapa lagi orang ini?
Mungkin penelpon ini mengira nomor ini adalah milik Raebyung yang lain, banyak kan orang lainnya di Korea Selatan yang memiliki nama yang sama?!

Sekilas ia melihat layar ponselnya. Ia memperhatikan telepon itu dari nomor yang tidak dikenal. Sebenarnya, sekarang ia benar-benar tidak mood untuk meladeni orang ini. Raebyung harus segera mencari dokumen file yang masih berserakan di meja kerjanya.

“Agasshi, maaf. Mungkin anda salah sambung.“ ujar Raebyung dan segera menekan pilihan off di layar sentuh ponselnya. Tapi orang itu kembali menelponnya lagi.

Raebyung menatap ponselnya sambil menggigit bibirnya kesal. Ia baru akan mencabut baterai ponselnya ketika ada sebuah pesan yang masuk. Senyumnya mengembang ketika ia membaca pesan itu.

Sender From : Jinki
Annyeong. Bagaimana awal harimu pagi ini? Haha, aku berpikir untuk mengajakmu makan siang nanti di café biasa^^ Apa kau keberatan? Aku tahu kita pasti akan sangat sibuk nanti, makanya aku ingin menyempatkan waktuku bersamamu, raebyung-ah..

Dengan gesit ia segera mengetikkan balasannya. Setelah itu, ia kembali membacanya dengan hati-hati jawaban yang akan ia kirimkan.

Yah, mereka berdua memang bisa dibilang sangat akrab. Walaupun hanya sebagai partner kerja pada awalnya, hubungan mereka sekarang lebih daripada itu. Raebyung sudah menganggap Jinki sebagai kakaknya begitupun sebaliknya.

Send To : Jinki
Jinjja?! Ah, Keudeyo. Baiklah, dengan senang hati aku menerimanya. Wahh, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu.. Haha, sampai nanti. 😀

Raebyung segera menekan pilihan send. Ia melirik ke arah jam dinding di ruangan itu. Jarum jam sudah menunjukan pukul 09.45. Ia sadar ia akan terlambat kalau tidak segera bersiap-siap.
.
.

Raebyung melangkah dengan tergesa-gesa memasuki sebuah gedung perusahaan ternama, tempat di mana ia bekerja. Aktifitas di kantor itu pun sudah mulai terlihat sibuk. Seraya berjalan ke arah lift, Raebyung tersenyum sambil menyapa dengan ramah orang-orang yang dilewatinya.

Beruntung lift itu kosong. Bisa dibayangkan jika lift tersebut penuh sesak dan ia harus berdesak-desakan sambil memegang 2 map file tebal yang dibawanya sekarang dengan susah payah. Ia segera menekan tombol menuju lantai 25.

Saat pintu lift akan menutup, tampak seseorang yang mencegahnya. Raebyung menatap Jinki yang masuk dan ia tersenyum untuk menyapanya. Jinki hanya tersenyum seadanya karena ia tampak sibuk menjawab telepon.

Raebyung mengamati raut serius di wajah Jinki, sepertinya ada masalah, terbukti dengan tarikan nafas berat Jinki sesudahnya. Jabatan sebagai Assistant Manager memang sering menyulitkan Jinki. Ia seperti sedang berpikir keras dan menunjukan raut wajah yang frustasi.

“Apa ada masalah?“, sahut Raebyung yang segera membuyarkan lamunan Jinki.

“Aniya.. Hanya masalah yang berkaitan dengan pembangunan cabang baru di Busan.“ jelas Jinki sambil menoleh pada Raebyung.

Raebyung menunjukan kekhawatiran di wajahnya. Pasti ini sangat menguras perhatianmu, pikirnya. Melihat itu Jinki tersenyum, ia tidak ingin Raebyung mengkhawatirkannya.

“Tenang saja. Aku pasti bisa mengatasinya. Hal ini hanya masalah kecil saja, tidak usah dipikirkan Rae-ah.“ Raebyung mengangguk mengerti dan sekali lagi ia membenarkan letak map yang sedang dibawanya. Menyadari hal itu, Jinki berinisiatif untuk membantunya. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil kedua map itu. Raebyung segera berterima kasih pada Jinki dan dibalas dengan senyumnya lagi.

Ini kesekian kalinya ia merasa tertolong oleh Jinki. Ia kembali berpikir, sekalipun Jinki tidak pernah membiarkannya kesulitan. Sejak dari awal mengenalnya pun, Jinki memang sosok yang baik.

Saat dentingan pintu lift terbuka, Jinki berjalan mendahului Raebyung ke ruangannya. Lalu ia meletakkan dokumen-dokumen itu di meja kerja milik Raebyung. Sekali lagi ia berterima kasih pada Jinki dan merasa tidak enak karena selalu merepotkannya.

“Ne, cheonman. Hei, aku malah tidak merasa keberatan sama sekali Raebyungie. Kalau ada masalah, hubungi saja aku. Ya sudah kalau begitu, ada urusan yang harus segera kutangani. Sampai nanti.“ Ia segera beranjak keluar dari ruangan itu. Pandangan Raebyung masih mengekori langkah Jinki. Setelah itu, ia segera menyibukan dirinya dengan persiapan bahan untuk rapat yang akan dimulai sebentar lagi. Mengecek dengan teliti slide presentasi dan sebagainya.

Raebyung POV

Rapat selesai saat waktu tepat menunjukan pukul 12. Waktu makan siang masih setengah jam lagi. Hmm, yang kuingat setelah ini aku tidak ada jadwal lainnya selama 2 jam terakhir ini. Semua pekerjaan yang sempat tertunda sudah kuselesaikan kemarin. Ah, lebih baik aku segera memanfaatkan waktu kosongku ini.

Setelah menaruh kembali dokumen file yang kuletakkan di ruangan kerjaku, aku segera menghubungi Jinki.

At café..

“Apa sudah lama menungguku?“ Aku menggeleng saat Jinki bertanya. Ia baru saja sampai dan sekarang duduk di hadapanku. Aku dan Jinki memesan Smoke Beef Steak yang sangat terkenal di sini. Beberapa menit kemudian makanan itu sudah tersaji di depan kami. Tanpa ragu aku langsung memakannnya.

“Hei.. Hei.. kalau makan pelan-pelan nanti malah tersedak. Haha, kau kelihatan sangat kelaparan tahu. Apa kau belum makan sama sekali huh?“ sahut Jinki sambil terkekeh pelan begitu melihatku makan selahap ini.
Glek. Aku menelan semua yang berada di dalam mulutku dengan terburu-buru sehingga membuatku tersedak. Jinki segera memberiku minuman.

“Apa yang kubilang tadi Raebyung-ah..” katanya saat aku sudah mulai memotong daging steak itu lagi. Ia hanya dapat menggeleng prihatin melihat tingkahku.

“Habis rasanya memang lezat kau tahu. Ah, memang dari kemarin malam aku belum makan sama sekali Jinki-ah. Jadi yah jangan heran, beginilah jadinya.” Ucapku sambil membela diri. Aku memasukan sepotong daging lagi ke dalam mulutku. Apa aku harus memesannya lagi? Aku masih merasa benar-benar lapar.

Jinki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Yang dipikirkannya, mau bagaimana pun Raebyung memang seperti ini. Lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya sendiri, tipe seorang hardworker.

“Cck, kau ini. Jangan bekerja terlalu keras Rae-ah. Tidak baik untuk kesehatanmu nanti. Bagaimana kalau maag-mu kambuh lagi?! Kau harus membiasakan untuk makan secara teratur, jangan menunda-nunda waktu makanmu lagi.“

Raebyung hanya membalasnya dengan anggukan mengerti, ia masih tampak sibuk dengan makanannya. Raebyung tahu, kalau Jinki sudah berbicara panjang lebar seperti itu ia tidak dapat membantahnya.
Ia juga tahu setiap kali Jinki menasehatinya karena bermaksud baik. Seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Raebyung mengerti semua itu.

“Apakah aku boleh memesannya lagi? Aku masih lapar, Jebal..” tanya Raebyung sambil menatap Jinki dan memohon padanya.

“Terserah kau saja. Asalkan jangan makan terlalu banyak.“ jawab Jinki sambil tertawa pelan.

Entah kenapa, setiap kali ia bersama dengan Raebyung, ia selalu merasa nyaman dengannya, sejak pertama kali mengenalnya pun.

Apa ada rasa lain di hatinya?
.
.

“Kau kenapa?”

“Hm?”

“Jangan melamun terus. Hei, memangnya sedang memikirkan apa?”

“Rahasia. Haha.”

“Ish. Kau ini. Ya sudah, aku hanya ingin memberikanmu ini.”

“Oh. Gomawoyo Seohyun-ah.”

“Ne. Jangan lembur terlalu malam Raebyung-ah.”

“Ne.. Arrayo.”

Seperti biasa, setiap di akhir bulan aku harus melakukan pembukuan untuk data pemasukan dan pengeluaran perusahaan.

Baru saja tadi manager Seo memberikanku setumpuk data-data itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung memulai pekerjaanku.

Tak terasa, sekarang sudah pukul 11 malam. Cck, lebih baik aku pulang saja. Biar ini semua kulanjutkan besok saja.

Ah, benar saja apa yang baru kupikirkan. Jalanan sudah terlihat sangat sepi. Bagaimana caranya aku pulang? Taksi juga tidak terlihat dimanapun.

“Butuh tumpangan?”
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku, membuatku melangkah mundur. Jinki-ya! Hah, beruntung ada dia.

“Kau belum pulang?” ucapku setelah menaiki mobilnya.
Jinki terlihat fokus mengemudikan mobilnya, ia hanya menjawabnya sambil berpaling dan tersenyum kecil. Kami terdiam dan sunyi melingkupi kami berdua. Yang terdengar hanya alunan musik dari CD-player. Musik yang mengalun indah, memainkan nada piano dari Yiruma – River flows in you.

Entah kenapa, setiap kali melihat Jinki tersenyum, kadang mengingatkanku akan seseorang. Ya, seseorang yang sangat kurindukan.

Malah saat pertama kali melihat Jinki, aku merasa wajahnya sangat mirip dengan dia.

Alunan lembut dentingan piano itu semakin menghanyutkanku. Sekali lagi, aku kembali mengingat di saat-saat dia masih berada di sampingku. Semuanya.

Hatiku terasa berat. Ingin sekali rasanya aku bertemu dengannya walau hanya sekali saja. Kupalingkan pandanganku ke arah kaca, menatap sisi di baliknya.

Lagu ini.. adalah lagu yang dia mainkan saat itu untukku. Aku memejamkan mataku. Menikmati nada-nada yang mengalun indah.

Kenapa aku jadi ingin menangis? Apa aku sangat merindukannya hingga seperti ini? Dengan sekuat tenaga, aku menahan air mata ini agar tidak jatuh dari pelupuk mataku.

“Raebyung-ah.. Kita sudah sampai.” Suara Jinki membuatku sedikit terkejut. Aku masih termangu dan diam dalam posisiku. Aku memikirkan kembali. Apa rasa itu masih tertanam di dalam hatiku?

“Kau tidak apa-apa?”

Jinki menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh ke arahnya. Ia menaikan sebelah alisnya, menunggu jawabanku. Aku hanya mengangguk. Dengan perlahan, ia memelukku. Aku tidak membalas ataupun menolaknya.
Ia mengelus lembut helai-helai rambutku lalu membisikan ‘semuanya akan baik-baik saja. Ada aku yang akan selalu menjagamu.’

Entah kenapa, aku merasa nyaman di dalam pelukannya. Jinki-ya, terima kasih atas semuanya. Semua kebaikanmu padaku.

Setelah Jinki melepaskan pelukannya aku langsung keluar dari mobilnya dan melambai padanya. Jinki segera menjalankan mobilnya dan aku berjalan pelan menuju apartemenku. Kupikir hari ini sangat melelahkan.
.
.

Los Angeles, California, USA

Lelaki itu masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Ia tidak menyadari ada seseorang yang mengamatinya di ambang pintu itu. Beberapa detik kemudian, Kim Joong Min melangkah masuk ke ruangan itu. Ia mendudukan dirinya di salah satu sofa.

Lelaki itu akhirnya sadar akan kedatangan ayahnya. Ia segera beranjak dari tempatnya semula. Ia hanya bisa memikirkan berbagai kemungkinan hal apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya.

Hubungannya dengan ayahnya menjadi sangat kaku, sejak kematian ibunya 12 tahun yang lalu. Walaupun kakaknya, Tiffany tidak menyalahkan Joong Min atas semua ini. Selama ini, kakaknya itu lebih memilih untuk melanjutkan studinya dan menetap di Paris, Prancis.

Ia terkadang iri dengan kakaknya. Tiffany bebas memilih dan menentukan keputusannya, sedangkan ia? Semua yang ingin dilakukannya, hal apapun itu. Semua dikendalikan oleh ayahnya. Ia harus selalu melakukannya.

“Bagaimana kehidupanmu selama berada di sini ?” tanya Joong Min dengan suara berat yang khas yang sudah sangat dikenalinya. Ayahnya selalu berbicara to the point, tidak suka untuk sekedar basa-basi.

“Ne? Tentu saja baik. Seperti yang appa lihat.” jawabnya singkat. Namja itu lebih memilih berdiri dan mengamati lalu lintas yang terlihat dari jendela kaca besar kantornya daripada harus duduk berhadapan dengan ayahnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantung celananya.

“Aku akan mengirimkanmu kembali ke Seoul untuk mengurus perusahaan di sana. Tuan Park yang akan mengurus semua kebutuhanmu. Semuanya sudah kutangani. Keberangkatanmu 2 jam lagi. Segala persiapan sudah selesai kuurus.”

Kim Joong Min adalah Direktur CEO pemilik perusahaan Co-Ed. Nama perusahaan ini sudah sangat terkenal di seluruh dunia, khususnya di bidang perekonomian Internasional.

Ia sendiri tidak heran jika ayahnya selalu memiliki ide-ide radikal yang tidak mudah ditebak. Maka dari itu, perusahaan ini sangat maju dan selalu dapat mengalahkan pesaing-pesaing bisnisnya yang lain.

“Baiklah kalau begitu.” Ia menarik nafas berat dan berbalik menatap ayahnya. Ia menghembuskan nafas, resah dengan keputusan yang sangat mendadak ini.

“Aku mengerti.“ , ucapnya sambil menatap lurus ayahnya.
.
.

Hari Minggu. Hari libur ini Raebyung masih tertidur pulas padahal ini sudah mencapai waktu tengah hari. Kebiasaan lainnya yang tidak bisa dihilangkan darinya. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk memulai hari. Ia menggeliat dalam selimutnya dan membuka matanya perlahan. Raebyung menyikap selimutnya perlahan lalu beranjak dari tempat tidur.

Raebyung baru ingat kalau ia belum sempat berbelanja untuk kebutuhannya selama satu bulan ini.

Sehabis mandi dan sarapan, ia memutuskan untuk pergi dengan pakaian kasual saja. Jeans dengan kemeja kotak-kotak, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja. Dan ia juga memakai sepatu sandal favoritenya.

Suasana musim panas yang terik langsung menyambutnya. Ia memutuskan untuk berjalan ke daerah pusat perbelanjaan, sekaligus dapat me-refresh segala kepenatan yang ia rasakan di kantor.

Raebyung POV

Saat memilih barang-barang yang akan kubeli, tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat belanjaannya jatuh berhamburan. Aku membantunya mengambil semua itu dan segera membungkuk meminta maaf berkali-kali karena kecerobohanku.

“Ah, jeongmal mianhamnida agasshi, jeongmal..” ucapanku terhenti begitu aku menatapnya. Senyum lebar langsung mengembang di wajahku.

“Jieun-ah!!!”

“Raebyung-ah!!!”

Sudah 4 tahun sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Kami saling memandang satu sama lain dan ia mengamati perubahan penampilanku. Kami berdua tertawa bersama. Merasa cukup kaget, setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu kembali.

Setelah selesai berbelanja, kami memilih untuk pergi ke salah satu restoran yang jaraknya tidak begitu jauh.

“Bagaimana kabarmu?”

“Omo.. Kau sedang hamil ya?” tanyaku padanya. Terlihat bagian perutnya sudah terlihat agak membesar.

“Tunggu, tunggu kalau begitu berarti kau sudah menikah?? Aigoo, dengan siapa Jieun-ah??” Pertanyaan-pertanyaan langsung betubi-tubi aku tanyakan. Jieun hanya tertawa melihat keantusiasanku.

“Haha. Tenang dulu Raebyungie. Ya, memang satu setengah tahun yang lalu aku baru menikah. Usia kandunganku ini baru menginjak 4 bulan.”

“Wah, chukkae. Hei, siapa dia, namja yang beruntung itu?”

“Eum? Tunggu sebentar, ada panggilan masuk.” Sahutnya yang membuatku jadi agak sedikit penasaran. Aku meminum jus yang kupesan karena di cuaca panas seperti ini membuatku sangat haus.

“Ah~ Itu dia datang.”

“Hm?” Kutolehkan pandanganku mengekori langkah seseorang yang tengah memasuki restoran. Ia melambai ke arah Jieun sambil berjalan ke sini. Wajahnya seperti seseorang yang kukenal..

“Jagiya..” Jieun langsung menyambutnya lalu menggenggam tangan kanannya. Ia tersenyum padaku dan aku membalasnya.

“Kau.. Raebyung kan?” Aku hanya mengangguk.

“Hei, masa kau tidak mengenalnya? Cck, kau ini, masa lupa. Dia adalah orang yang kutaksir dan selalu kukagumi dulu..”

“Ah! Apakah kau Thunder, Park Sang Hyun?” Mereka berdua bertatapan lalu keduanya mengangguk bersamaan sambil tersenyum kepadaku.

Aigoo, aku tidak bisa membayangkan, takdir memilih menyatukan mereka untuk bersama. Aku bisa melihat, dari caranya ia menatap Jieun, bahwa ia sangat menyayangi Jieun. Aku ikut bahagia karena Jieun bisa mendapatkan yang terbaik. Kehangatan dari keduanya saat mereka tertawa bersama dan kebahagiaan yang mereka rasakan.
.
.

“Kau tahu, aku sangat menginginkan dia itu pergi dari hadapanku tapi ia malah bertanya apa salahnya..”

“Hahaha, kau jahat sekali Jinki. Aku tidak menyangka kau bisa seperti itu.”

“Aish, Ya! Jangan tertawa. Kau tega melihatku begini? Sekarang aku merasa sangat jengkel, kenapa sejak kemarin aku selalu merasa diteror oleh wanita itu.”

“Haha.. Apa yang kubilang sebelumnya, pasti ia adalah penggemarmu. Ckck, kau seharusnya mensyukuri keberuntunganmu.”

“Keberuntungan apa? Yang ada malah aku yang selalu kena sial.”

“Hahaha..” Aku terkekeh geli melihat Jinki merengut seperti itu dengan menunjukan ekspresi kesal.

Agak kasihan juga padanya, tapi apa yang bisa kuperbuat? Kupikir seseorang yang mempunyai perasaan suka, kita tidak bisa melarangnya.

“Hei, bagaimana kalau aku mentraktir makanan kesukaanmu?? Chicken?”

“Ehm? Tentu saja aku mau. Aku tidak akan menolaknya Raebyung-ah.”
Dasar Jinki. Jika ada yang menyangkut dengan ayam, makanan apapun itu ia pasti akan sangat menyukainya, sangat. Sifatnya yang seperti ini, terlihat seperti anak kecil saja.

“Yasudah, ayo.” Ia berjalan disampingku dan menggenggam tanganku sambil mengayun-ayunkan genggaman tangannya perlahan. Aku hanya dapat tertawa geli melihat ia bisa sesenang ini.
Haha, dasar Maniac Chicken.
.
.

“Jieun-ah, apa kita bisa tidak menonton melodrama seperti ini?”

“Andweyo! Hua~~ kenapa ibu mertua itu bisa jahat sekali raebyungie. Hiks Hiks..” Jieun mengambil sehelai tissue yang berada di sampingnya.

“Jieunnie, lebih baik ganti saja channel Tvnya. Aku tidak ingin kau menangis terus sampai matamu sembab.” Jieun yang sedari tadi serius menonton film itu, hanya mendelik kesal ke arah Raebyung. Ia segera mengunci mulutnya atau ia akan dimarahi oleh Jieun.

Alasan kenapa Raebyung bisa berada di sini, karena Thunder meminta tolong padanya untuk menjaga Jieun karena Ia sedang ada pekerjaan di Daegu. Dan Raebyung memilih untuk menginap saja.

Sebenarnya, Raebyung sangat tidak menyukai adegan-adegan dalam melodrama seperti yang sedang ia tonton. Ia terpaksa menuruti kemauan Jieun.

Jieun bilang ini adalah permintaan anaknya yang harus dituruti. Yah, mau tidak mau. Kalau boleh memilih, Raebyung pasti akan menonton film-film action atau horror daripada drama.
Hah, ia hanya berharap film ini akan cepat selesai.
.
.

Sebuah pesawat baru saja landing dan mendarat di Incheon Airport. Lelaki itu baru saja tiba di sana dan ia melangkah menuju pintu utama airport itu. Ia menarik nafas dan tersenyum karena teringat sesuatu di benaknya.

Disinilah semua kenangannya berkumpul menjadi satu. Seluruh harapannya yang selalu ia teguhkan di dalam hatinya.

Lelaki berambut coklat gelap itu berjalan keluar menuju Gate 11. Ia melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan sejak tadi. Entahlah, ia merasa sangat merindukan tanah kelahirannya ini. Sejak kedatangannya ke LA, ia telah memutuskan kontak dengan siapapun.

“Tuan muda, selamat datang kembali.” Seseorang tengah menyambutnya dan membungkuk hormat pada pemuda itu. Ia imembalasnya sambil tersenyum ramah.

Teringat akan tujuan yang sebenarnya-mengapa ia langsung menyetujui niatan ayahnya , ia segera menanyakan satu hal pada Park ahjussi.

Hari ini, ia merasa harus mencari keberadaan seseorang yang selama ini sangat ingin ia temui.

Cinta pertamanya..

Raebyung POV

“Apa aku harus benar-benar pergi Jinki-ya?” tanyaku sekali lagi.

Sebenarnya, aku tidak ingin datang ke sana. Ada acara penting yang diselenggarakan oleh perusahaan yaitu pelantikan CEO yang baru, menggantikan presdir Joong Min yang akan memimpin perusahaan ini selanjutnya.

“Tentu saja. Apa kau ingin wanita itu yang menggantikanmu? Lagipula manager Seo juga sudah menugaskanmu.”

“Lebih baik Victoria saja yang pergi. Hei, bagaimana kalau pekerjaanku di sini ada masalah?”

“Ssst. Sudah tidak usah dipikirkan. Biarkan Victoria yang menanganinya.”

“Tapi…”
Setelah lama berargumen panjang, akhirnya aku mengalah. Lagipula pasti Jinki yang akan lebih cerewet dariku.

“Tenang saja. Besok aku akan menyusulmu ke Jepang. Sudah sana, sudah waktunya untuk check-in.” Aku menarik nafas panjang sambil berjalan ke arah antrian. Aku menoleh ke arah Jinki, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum padaku. Aku segera membalas senyumannya.

Saat aku menolehkan pandanganku ke arah lain, seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah denganku, ia menubrukku dan membuat tas tanganku jatuh dan seisi tasku jatuh berhamburan.

Aku segera mengambil barang-barangku dan ia ikut membantuku. Aku terpaku dan terdiam mengamatinya. Sosoknya yang berperawakan tinggi dan berkulit putih pucat. Ia berambut coklat gelap dan mengenakan jaket dan celana senada serba hitam yang dipadukan dengan kaus putih. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Ia berpaling dan tersenyum kepadaku sambil meminta maaf. Ia membantuku berdiri sambil mengulurkan tangannya.

Sesaat aku masih terpaku menatapnya lalu ketika aku menyadari bahwa aku akan terlambat, aku segera bangkit berdiri dengan meraih tangannya. Aku membungkuk meminta maaf dan cepat-cepat pergi dari situ. Tidak ingin tertinggal yang lainnya, lebih baik aku segera menyusul yang lain.
.
.

Tok. Tok. Tok.

“Raebyung-ah, apa kau sudah siap? Cepat, sebentar lagi acaranya akan dimulai.”

“Ah, tunggu sebentar Seohyun-ah.” Sambil terburu-buru merapikan blouse yang kupakai dan dipadukan dengan high heels berwarna peach soft yang segera kukenakan, aku segera menghentakan kakiku ke arah pintu. Disana sudah berdiri Seohyun yang sudah menungguku sejak tadi. Aku hanya dapat tersenyum meminta maaf.

“Cck, kau ini. Ya sudah, ayo cepat. Kita sudah tidak ada waktu lagi.”

Saat kami memasuki aula tempat pertemuan itu, disana sudah banyak wartawan dan reporter yang akan meliput. Kami menunjukan ID-pass dan dapat masuk dengan mudah. Aku dan Seohyun segera mengambil tempat yang sudah disediakan di bagian depan. Aku menyadari hanya kursi Jinki saja yang masih kosong. Demi Tuhan, dimana kau, Lee Jinki?! Ia telah berjanji padaku akan datang kemari. Hah, benar-benar dia itu.

Selang beberapa detik kemudian, acara dimulai. Aku tidak terlalu menyimak susunan acaranya, yang jelas aku sangat mengkhawatirkan Jinki, dimana dia sekarang. Tiba-tiba riuh tepuk tangan menyadarkan lamunanku.

Seseorang baru saja memasuki pintu aula dan tengah berjalan ke arah podium yang masih diiiringi tepuk tangan yang membahana. Aku mengerjap kedua mataku karena blitz kamera dari para wartawan yang menghalangi pandanganku.

Aku terkaget saat tersadar siapa dia. Darah di tubuhku seakan membeku seiring dengan detak jantungku yang berdebar tak karuan. Tatapanku masih mengekori langkahnya. Disaat tatapannya menuju ke arahku aku segera mengambil air yang tersedia dan meminumnya sampai habis.

“Gwaenchanayo?” Seohyun bertanya padaku karena melihat tingkahku yang menjadi sedikit aneh. Aku mengangguk canggung. Pikiranku kacau.
Pria yang kulihat tadi, dia pria yang tidak sengaja kutemui di bandara, yang akan menjadi Ceo pengganti dari Kim Joong Min presdir adalah Kim Ki Bum-Key. Jadi, Key adalah anak dari presdir?!

Disaat acara pelantikan telah selesai, aku memutuskan untuk segera pergi. Seohyun sempat bertanya ada apa tapi aku hanya tersenyum dan berkata tidak ada masalah apa-apa. Kepalaku terasa pening. Pertanyaan yang bersarang dihatiku : Kenapa harus sekarang? Kenapa disaat aku sudah hampir melupakannya?
.
.
.
TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

The Author

WELCOME TO MY WORLD : SM & YG Family

%d blogger menyukai ini: