My pure imagination..

Posts Tagged ‘Key SHINee

Author : Luciana Christin N. / @Christincn

Main Cast :
• Han Raebyung (me)
• Kim Kibum (Key SHINee)

Genre : Romance

Length : Chaptered

Note : Annyeong! Ini bagian part 2 nyaa.. Storyline dari ff ini murni dari pemikiranku sendiri. Maaf kalau sebelumnya ff ini masih jauh dari kesempurnaan.
Hope you’ll be like this story.. Tolong hargai kerja keras author. Don’t be a silent reader !!! Like, Read, and Comment^.^
Happy Reading!! 

###

Kurasa aku akan selalu mencintaimu.. sampai kapanpun itu.
Meskipun berkali-kali aku selalu mencoba untuk mengelak…
Saranghae.

###
– Part 2 –

Ki Bum Pov

Drap.. Drap.. Drap..

Terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa menggema di koridor yang sudah tampak kosong ini. Sekolah memang sudah terlihat sepi sekarang sudah lewat dari jam pulang sekolah.

Kulirik sekali lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Hah, kurutuki nasib sialku sekarang. Aku harus pulang terlambat karena ada barang yang tertinggal olehku tadi di ruang musik.

Ketika tengah berjalan menuju ruang musik, dari kejauhan terdengar sayup-sayup alunan permainan piano yang sangat indah.
Siapa yang memainkannya? Batinku dalam hati.

Dengan rasa amat penasaran, kulangkahkan kakiku dengan perlahan agar tidak mengusik permainan orang itu.

Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dapat kulihat seorang yeoja yang sedang bermain piano. Tunggu, wajah dan siluet tubuhnya seperti seseorang kukenal.. Oh, bukankah itu Raebyung ? Sedang apa ia disini ?

Sebentar, setelah kuperhatikan lagi ia terlihat seperti habis menangis. Tiba-tiba lamunanku itu seketika buyar begitu mendengar nyanyiannya selang beberapa detik kemudian. Suaranya terdengar merdu sama seperti permainan pianonya tadi.

There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold, but you sing to me over
And over and over again

So I lay my head back down
And Iift my hands and pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give you my destiny
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs, I’m giving it back

I pray to be only yours
And I know now you’re my only hope..

Saat kusadari permainannya itu sudah selesai, aku segera beranjak untuk menemuinya. Ia terlihat begitu kaget ketika melihatku, seperti aku ini seseorang yang tidak ingin ia temui sebelumnya.

Dia hanya menunduk sambil berdiri memunggungiku begitu melihatku tadi. Kuberanikan diri untuk menyapanya.

“ Annyeong.. Raebyung. Ige, sedang apa kau disini ? “ ucapku sambil menghampirinya.

“ Annyeong haseyo, Kibum-ssi. Ku rasa itu bukan urusanmu. “ balasnya dengan suara bergetar seperti habis menangis.

“ Gwaenchanayo ? “ Aku merasa begitu khawatir melihat keadaannya sekarang. Entah ada hasrat apa yang tengah menghampiriku sekarang. Kuraih kedua bahunya dengan jemariku seraya menghadapkan tubuhnya untuk menghadapku.

“ Naneun.. gwaenchanayo. “ gumamnya lirih sambil menepis kedua tanganku yang berada di bahunya. Saat ia menegakkan wajahnya, kulihat matanya yang terlihat merah juga wajahnya yang dipenuhi air mata yang mengering.

Ingin sekali rasanya aku dapat menghapus semua kesedihannya. Jujur, aku benar-benar merindukan senyumanmu yang dulu Raebyung-ah. Yang selalu kulihat sekarang hanyalah wajahnya yang terlihat sendu itu.

“ Aku harus pergi Kibum-ssi. “ ucapnya sambil berjalan melewatiku. Ia terlihat jengah dengan tatapanku yang menatapnya dengan lekat tadi.

“ Tunggu, aku…“

Ia tetap berlalu begitu saja tanpa menggubrisku sama sekali lalu menutup pintu dengan kasar. Bunyi pintu berdeham kudengar kemudian. Aku meringis mengingat tatapan datarnya. Kenapa dia terlihat begitu dingin bahkan terkesan seperti menjauhiku? Hei, memangnya apa salahku hah?

Tiba-tiba perhatianku tertuju pada liontin yang tergeletak di bawah piano. Kuraih benda itu sambil mengamatinya lekat. Entah mengapa aku merasa sangat familiar dengan liontin ini..

Tunggu, bukankah ini hadiah yang dulu kuberikan ?

###

Raebyung Pov

Kenapa kau selalu muncul di saat aku ingin melupakanmu ?
Mengapa aku selalu saja memikirkanmu ?
Seperti rangkaian memori yang akan selalu kuingat, kedua pertanyaan itu selalu terngiang di dalam pikiranku.

Memori yang selalu kucoba untuk dilupakan. Tapi, perasaan ini… Entahlah, aku tidak ingin mencoba mengerti hal serumit ini. Kuamati sebuah kalung yang tergenggam dalam jemariku, dapat kuingat jelas semua kenangan itu.

– Flashback –

Langit Seoul ketika malam hari memang selalu terlihat lebih indah. Kalian tahu, aku merasa sangat senang ketika melihat bintang bertaburan seperti ini. Memandangi sinar cemerlangnya yang terlihat seperti kristal menurutku. Perasaan antara kagum dan senang yang selalu kurasakan. Aku tidak tahu kenapa begitu menyukai kebiasaanku ini.

“ Kau sedang apa? Hei, apa kau sedang memandangi langit seperti biasanya? Ah, aku benar – benar bingung. Apakah ada yang terlihat menarik dari semua itu ?“

“ Aish, kau diamlah. Kenapa kau hobi sekali merecoki dan menggangguku hah?“ balasku dengan menatap sinis ke arahnya. Otomatis, semua khayalanku tadi langsung hilang begitu saja oleh sebuah suara yang kuyakin dialah orangnya. Siapa lagi selain DIA yang selalu menggangguku ?!

Ketika aku menjawabnya pun ia membalasnya dengan cengiran lebar yang tersungging di wajahnya.

“ Heh.. jelek. Aku kan hanya bertanya saja, tidak boleh?! “ jawabnya menanggapi dengan nada yang juga terdengar sinis.

Masa bodoh, pikirku. Aku tidak menghiraukannya. Kuabaikan saja dia, biar tahu rasa, dan kembali melanjutkan aktifitasku tadi.
Memandangi bintang-bintang indah yang bertaburan ini 

15 menit berlalu. Aku masih saja asyik sendiri, masih belum menghiraukan keberadaannya. Ya, walaupun di sekolah aku selalu bertemu dengannya, tapi kadang ia sering datang ke halaman belakang rumahku sekedar berkunjung, seperti sekarang ini.

Merasa gerah dengan sikapku yang keras kepala, akhirnya ia mengalah juga dan memecahkan kecanggungan di antara kita.

“ Raebyungie.. jangan seperti ini. Jebal, mianhae. Kau pasti merasa marah padaku, itu wajar. Masalah tadi siang, sebenarnya akulah yang memang merencanakan untuk mengerjaimu tadi. “
Aku hanya meliriknya melalui ekor mataku. Kulihat ia menunduk dan semakin menunduk. Sepertinya.. ia benar – benar menyesal dengan kelakuannya tadi. Cck, aku paling benci kalau seperti ini. Rasanya benar-benar menjengkelkan.

Kemudian ia menegakkan kepalanya dan menatapku, menunggu apa yang akan kukatakan, memaafkannya atau tidak.

“ Johae.. Untuk kali ini aku akan akan memaafkanmu. “

“ Jeongmal? Haha, gomawo raebyung-ah. “ Tampak terlihat air mukanya langsung berubah cerah dan senang begitu aku mengucapkannya.

“ Ne, aku juga tidak akan memberimu kesempatan ini lain kali. “

“ Iya, aku tahu itu. “

Ia tersenyum manis setelah itu. Aku benar-benar menyukai senyumannya. Setiap melihat ia tersenyum seperti itu entah kenapa rasanya hatiku selalu berdesir.

“ Raebyung-ah… Sangeul chukkae. Di ulangtahunmu yang ke 15 ini, kuharap kau selalu menjadi Han raebyung yang kukenal dan kau selalu menjadi sahabatku. “ ucapnya sambil tersenyum lagi padaku.

Sebelum aku sempat membalas ucapannya, tiba – tiba ia langsung berdiri dari kursi gantung yang kami duduki dan langsung menarikku ke dalam pelukannya.

“ K.. Key-ah.. “ Aku masih merasa kaget dengan apa yang ia lakukan, juga masih sulit untuk berkata-kata. Kurasakan detak jantungku berdetak tak karuan seperti akan melompat keluar. Ya Tuhan.

Tak berapa lama kemudian akhirnya ia melepaskan pelukannya. Lalu ia memasangkan sebuah liontin untukku. Liontin itu terlihat sangat indah. Aku menyentuhkan jemariku di atasnya sambil menatapnya yang tengah tersenyum lebar kearahku. Aku meneguk ludahku, merasa gugup sekaligus terhipnotis dengan seluruh kharismanya.

“ Ini… sangat indah. Gomawo. “ Hanya itu rasanya kalimat yang bisa kuucapkan. Lidahku terasa kelu. Aku masih merasa lemas dengan detak jantungku yang tidak beraturan ini.

“ Itu adalah hadiah untukmu. Kau harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai hilang. Arra ? “

“ Ne, arraseo. “ jawabku sekenanya.

Kualihkan pandanganku karena kurasakan wajahku memanas dan pastinya pipiku merona merah ketika mengingat hal itu. Baru kali ini dia memelukku. Hahh, cukup dengan pelukannya saja sudah membuatku panas dingin seperti ini. >.<

Sekian detik berlalu, tidak ada yang berbicara di antara kami. Masih sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“ Raebyung-ah..”

“ Nde? ” balasku sambil menoleh ke arahnya.

Dengan perlahan ia berjalan lebih dekat kearahku. Aku hanya dapat berdiri mematung tanpa dapat mengalihkan pandanganku.

Makin lama jarak antara kita berdua semakin dekat. Dapat kurasakan nafasnya yang terasa hangat menerpa mengenai wajahku. Aku dapat menghirup aroma tubuhnya dari jarak sedekat ini. Kurasakan Ia mengecup keningku sambil memelukku kembali dengan erat.

Aku menahan nafasku. Sejak tadi aku hanya dapat menutup mata rapat-rapat, pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya.

Lalu…

5 detik…

10 detik..

Hei, kenapa tidak terjadi apa-apa?
Refleks, kubuka kedua mataku. Kemana dia? Aku mencarinya melalui sudut mataku. Ia tidak terlihat dimanapun. Omo, aku baru sadar kalau aku dikerjai olehnya.

“ Key !!! “ teriakku dengan suara yang lantang.

– Flashback End –

Kugenggam erat kalung ini, mencoba mencari kekuatan untuk benar-benar melupakan semuanya.

Aku merasa bodoh..

Sekian lama aku menyukainya, mencintainya, namun tidak memiliki keberanian lebih untuk menyatakannya. Selama itu aku hanya dapat menyimpan rasa itu rapat-rapat. Selama itu aku hanya ingin tetap berada disisinya dan menjadi sahabatnya.

Saranghae.. Walaupun aku berteriak sekalipun, mungkin kau tidak akan mendengarnya Key-ah.

Sakit rasanya.

Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya mengalir begitu saja tanpa sempat kucegah. Kupikir aku sudah tidak mampu menahannya sekarang. Sudah terlalu sakit. Menangis dengan berlinang air mata seperti ini, sangat miris, ejekku pada diri sendiri.

Kutarik nafas panjang untuk menenangkan diri sejenak. Membiarkan kristal kristal bening ini jatuh dengan sendirinya. Kutatapi tuts tuts piano di hadapanku ini seraya menaruh jemari-jemariku di atasnya.

Ting.. Ting..

Terdengar nada yang tidak beraturan dari tuts yang tadi kutekan asal. Aku mencoba memainkannya untuk meringankan perasaanku sekarang. Dengan serentak, jari jemariku menekan deretan tuts piano ini yang memperdengarkan alunan melodi merdu yang khas.

~

Pagi ini, seperti biasa aku mengambil tempat duduk paling belakang dikelasku. Menaruh tas, lalu mendudukan diriku. Kusibukan diriku dengan membaca sekilas partitur musik yang sengaja kubawa ini, mencoba memahami nada-nada yang tersusun dengan harmonis itu.

Brak!! Beberapa murid di kelasku menoleh ke arah sumber suara, aku pun ikut melihat ke arah pintu kelas, karena kuyakin suara berisik itu berasal dari situ.

Dan benar saja, seseorang telah menendang pintu itu. Bisa kulihat Kim Jonghyun, murid yang sekelas denganku itu muncul dari balik pintu itu. Ya dia memang anak yang populer di sekolah ini. Ah, aku tidak mau ambil pusing, karena aku tahu dia sering membuat onar meskipun populer. Aku cukup mengetahuinya dari Jieun.

Tidak lama kemudian, Key dan Minho ikut memasuki kelas. Aku mulai memperhatikan 3 orang yang ada di depan kelas itu. Mereka memang selalu menarik perhatian banyak orang.

Aku sedikit memfokuskan pandanganku untuk melihat Key. Tidak, pandangan kami bertemu. Aku mengerutkan kedua alisku karena aku mulai menyadari Key berjalan kearahku. Dengan cepat segera kupalingkan pandanganku dan menatap partitur musik di hadapanku. Kugenggam erat kertas-kertas itu, jangan sampai dia benar-benar sadar bahwa aku memperhatikannya tadi.

“ Kau memperhatikanku?! ” tanya suara yang sangat kukenal siapa pemiliknya. Bisa kurasakan beberapa orang menoleh kearahku. Aku mencoba untuk memasang tampang tidak tahu apa-apa dan tidak menanggapi perkataannya.

“ Hei! Aku bertanya padamu ?! “ tanyanya lagi. Aku masih menunduk menatap kertasku sampai kusadari kertas itu ditarik olehnya, terpaksa membuatku mendongak untuk menatapnya. Sekali lagi pandangan kami bertemu, aku memandangnya sedatar mungkin.

“ Nah begitu. Kau harus menghargai lawan bicaramu. “ ucap Key sambil melemparkan senyumnya.

“ Kembalikan itu ! ” ucapku tanpa membalas ucapannya barusan. Key mendengus tertawa kali ini. Melihat ekspresi tidak peduliku, senyum sedikit memudar dari wajahnya. Dengan sedikit malas ia melemparkan kertas-kertas itu ke mejaku. Kini ia telah berdiri tepat di hadapanku. Kemudian ia menggaruk kepalanya, tanda bahwa ia sedang gugup dan bingung ingin berbicara apa.

“ Mmm, begini. Itu, jadi… bagaimana dengan tugas akhir musik kita ? “

“ Oh? Masalah itu.. “

“ Tunggu. Boleh aku meminta no.ponselmu ? Supaya akan lebih mudah jika aku ingin menghubungimu untuk membicarakannya. “

Aku mengangguk sekilas. Key memberikan ponselnya padaku, dengan ragu aku memasukan no.nya.

“ Baiklah. Raebyung, “ seru Key sebelum kembali, aku mengangkat wajahku menatap ke arahnya. “… mohon kerja samanya.“ Katanya sambil membungkukan kepala.

“ Nde. “ ucapku datar sambil ikut membungkukan kepala. Kemudian ia berbalik. Aku menatap ke arahnya yang sedang berjalan ke arah Jonghyun dan Minho.

Entah kenapa aku merasa ingin sekali tersenyum sekarang.

~

Aku mengarahkan badanku di setiap sudut ruangan. Sudah hampir setengah jam dari waktu istirahat yang kuhabiskan untuk mencari liontinku yang hilang.

Bodohnya aku, padahal ini liontin yang berharga, tapi aku telah menghilangkannya sejak 3 hari yang lalu. Ini memang salahku yang tak ingin memakaiinya, jadinya setiap kali aku hanya meletakkannya di saku jas sekolah. Aigoo, kenapa aku bisa ceroboh sekali.

Ya, di sinilah aku menghilangkannya, di ruangan musik ini. Aku yakin betul, pasti kalung itu terjatuh saat aku sedang bermain piano karena hanyalah tempat ini tempat yang sering ku kunjungi. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal karena saking frustasi mencarinya.

“ Mencari inikah ? ” ucap seseorang yang berada di sampingku. Suara itu terdengar tak asing bagiku. Perlahan kudongakkan kepalaku untuk melihat siapakah sosok itu.

Deg
Hatiku mencelos. Dia.. Key!

Dengan cepat aku segera berdiri berhadapan dengannya. Mataku langsung tertuju pada benda yang menggelantung di antara jemarinya. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera kurampas liontin itu dan bergegas untuk pergi.

“ Chakkaman ! “ Ia berusaha menahanku.
“ Apakah ini sifat aslimu? Melarikan diri dari masalah juga tidak mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Untung saja aku yang menemukannya. Bagaimana kalau orang lain ?! “ Ia menyindirku sekaligus menghadangku untuk membuat tidak ada ruang untukku bergerak.

Kuhela nafas dengan berat sambil mengarahkan pandanganku untuk menatap manik matanya, kulihat ada semacam emosi yang tengah berkecambuk di sana. Kupikir wajar jika dia marah, memang ini semua salahku.

“Mian. “ balasku dengan menatap datar ke arahnya.
“ Chogi.. ada tugas dari Kim-Saem yang belum kukerjakan, aku harus buru-buru kembali ke kelas. “ Alasanku.

“ Kim-Saem tidak masuk hari ini. “ Ucapnya ketika aku baru berjalan beberapa langkah.

Aish. Bagaimana ini ?
Hahh, ayo cepat cari alasan lain.

“ Mmm, geurae. Maksudku Shin-Saem. “ Bohongku lagi.

“ Ia baru mengajar lusa nanti. “ Ia hanya menanggapi kebohonganku dengan santainya.

Glek. Mati aku.

Baru saja aku menoleh ke arahnya, ia langsung menyeretku dan mendudukanku di kursi beledu yang biasa kududuki saat bermain piano. Ia ikut mendudukan dirinya disebelahku sambil menatapku tajam.

“ Jangan pernah menganggapku sebagai orang lain lagi. Lama-lama aku merasa gerah dengan sikap anehmu iini. Dengar, aku masih sahabatmu yang dulu. Sekarang aku akan memainkan sebuah lagu khusus untukmu. ” Perlahan tatapan matanya melunak ketika menatapku dan ia tersenyum lembut padaku. Setelah itu ia tidak berbicara lagi dan langsung fokus bermain. Aku hanya menatapnya risih tanpa membalas ucapannya.

Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas, wajahnya yang begitu menghayati musik yang ia mainkan. Tanpa kusadari aku mengulumkan senyum tulus ke arahnya.

~

Keakraban pun mulai terjalin sejak saat itu.
Tidak ada lagii kecanggungan yang kurasakan saat kami sedang berdua. Bahkan kami menjadi sering mengontak satu sama lain.

Key juga sering mengajakku bercanda. Kadang kami juga sering pulang bersama. Aku juga tidak tahu mengapa kami berdua bisa jadi akrab begini setelah kejadian itu. Aku hanya membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Kuterima dengan pasrah apa yang akan menjadi takdirku nanti.

Dua bulan lagi, tak terasa sebentar lagi kami akan dihadapkan dengan ujian akhir. Siang malam aku selalu giat belajar. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi T.T

Seperti yang kukatakan tadi, setiap saat aku selalu menyempatkan waktu untuk belajar. Ya, seperti sekarang ini. Aku sedang berada di perpustakaan.

Kuedarkan pandanganku menelusuri ruangan ini. Hanya ada 1 orang lyang duduk di bagian ujung dan 1 orang lagi yang duduk membelakangiku.

Hmm, baiklah. Ini berarti tidak sia-sia aku menyempatkan waktuku ke sini. Jarang-jarang aku dapat ke sini, itu juga kalau tidak malas lagipula aku selalu menghabiskan jam istirahatku dengan Jieun dan Luna.

Saat sedang asik menelusuri rak-rak buku, langkahku tiba-tiba terhenti begitu melihat sosok yang dapat langsung menyita perhatianku seketika.

Alih – alih melanjutkan mencari buku, aku malah memilih melupakan tujuanku kemari. Seakan ada magnet yang terus menarikku, aku malah berjalan mendekatinya, yang sedang membaca buku sambil berdiri menyandar pada rak buku di belakangnya yang terletak di sudut ruangan.

Seperti ada yang menyadarkanku untuk segera kembali ke kenyataan, aku tersentak menyadari apa yang akan kulakukan. Bukannya malah menghampirinya aku hanya dapat berdiri mematung dengan memandanginya.

Tak dibutuhkan waktu lama untuk akhirnya ia sadar dengan kehadiranku. Ia mengalihkan pandangannya dan tersenyum padaku setelah ia menaruh buku yang telah ia baca itu. Aku membalasnya dengan senyuman kecil.

“ Annyeong. Raebyung-ah, sedang apa kau disini? Biasanya yang kulihat kau selalu bersama Jieun dan Luna saat jam istirahat. “

“ Annyeong. Ah, awalnya aku mampir ke sini ingin mencari buku tentang teori mikroekonomi tapi tanpa sengaja aku melihatmu. Tadi aku hanya ingin menghampirimu untuk mengajak berlatih bersama untuk tes nanti. Hhehe. “

“ Ah..benar juga. Aku hampir saja lupa jika kau tidak mengingatkanku. Hmm, baiklah kalau begitu. Kajja. ”

~

Ketika kami memasuki kelas sehabis latihan tadi, kami langsung berjalan terpisah ke arah yang berlawanan. Aku berjalan menuju kursiku, sedangkan ia pergi menghampiri kedua temannya. Siapa lagi mereka, yah kalau bukan Jonghyun dan Minho.

Sejak Key dan Minho masuk kelas ini, mereka-Jonghyun-Key-Minho-membentuk semacam geng yang menurut berita yang kudengar, mereka itu seperti penguasa sekolah—di Sekolah Chuseok High School ini. Ketiganya sama-sama dari kalangan high class, jelas aku mengetahuinya. Entahlah, yang jelas setiap harinya yang kulihat mereka selalu dikerumuni oleh yeoja-yeoja.

Hei, lagipula siapa yang peduli, aku juga tidak merasa cemburu. Key pernah bilang ia tidak terpengaruh dan hanya menganggap mereka itu hanya fansnya saja. Aish, terserah saja, pokoknya aku tidak mau tahu apapun.

“ Hei, kenapa melamun? Aigoo, kau sedang memikirkan siapa eum ?! “
Tiba-tiba saja Jieun muncul dihadapanku yang membuatku sedikit terlonjak kaget. Cck, awas saja kau Lee Jieun-ya akan kubalas lain kali.

“ Aniya.. Aku hanya bosan menunggu kalian. Darimana saja huh? Eh.. mana Luna ?“ jawabku sambil berusaha mengalihkan perhatiannya. Jika dia sudah penasaran dengan suatu hal, ia pasti akan cerewet minta diberitahu nantinya.

“ Mm, Sunyoung-ah? Dia bilang dia sedang ada urusan mendadak, baru saja dia ijin pulang tadi. Eh, Raebyung-ah nanti temani aku mencarikan hadiah untuk Thunder, oke ?! “

“ Euh? Sepertinya aku tidak akan sempat Jieun-ah. Mianhae, sepulang sekolah nanti aku harus belajar untuk ujian nanti. “

“ Ayolah Raebyung-ah, hanya untuk kali ini saja temani aku, ya? Nanti aku akan mentraktir es krim coklat kesukaanmu. Eotthe? Jebal…ayolah. ”

“ Jinjjja? Demi es krim coklat, baiklah… “
Jieun melonjak kegirangan ketika kuiyakan ajakannya. Ia hanya tertawa geli melihat ekspresi wajahku yang terlihat pasrah.

###

Author POV

“ Hah, akhirnya aku bisa beristirahat sekarang. Ah, lelah sekali. Badanku serasa pegal semua padahal tadi hanya menemani Jieun saja. “

Raebyung baru saja selesai membersihkan diri dan sekarang ia sedang berbaring di tempat tidurnya. Baru saja ia menutup matanya, merasa terganggu dan risih ibeberapa kali Raebyung bolak-balik posisi tidur.

Tak kunjung merasakan kantuk ia kembali membuka matanya sambil berdecak kesal. Entah kenapa ia benar-benar merindukan seseorang. Merasa ingin sekali mendengar suaranya.

“Ya, ya! Apakah aku mengkhawatirkannya ? Tapi.. tidak biasanya ia belum mengontakku sama sekali. Ahh, mollaseo.” Raebyung kembali memejamkan matanya. Mencoba bersikap tidak peduli dan tidak ambil pusing masalah ini. Tapi sesekali ia kembali mengecek ponselnya untuk memastikan ada panggilan/pesan yang masuk dan membuat Raebyung kembali terjaga. Ia hanya dapat menatap layar ponselnya penuh harap dan melupakan rasa lelahnya tadi.

“ Apa yang sedang dia lakukan ya? Hmmm.. “ Tanpa sadar ia bergumam seperti itu sambil membayangkan wajah Key dan senyumannya yang menurut Raebyung mempesona itu. Perlahan-lahan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman di wajahnya. Ia kembali mengingat kejadian lucu yang terjadi hari ini.

– Flashback –

Raebyung sedang berjalan santai sambil bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang ia dengar dari earphone putih MP3 miliknya.

Saat ini sekolah masih terlihat lenggang dan sepi. Ia sengaja datang lebih awal dari pagi-pagi biasanya agar dapat berjalan – jalan sambil menikmati suasana pagi hari di lingkungan sekolahnya ini.

Hal yang jarang sekali bisa Raebyung lakukan karena biasanya ia pasti selalu datang terlambat akibat malas atau memang terlalu lelah untuk bangun tepat waktu. Raebyung terkekeh pelan ketika mengingat kebiasaannya itu.

Ia mengeratkan kembali jas sekolah yang ia kenakan karena angin kembali berhembus kencang, walaupun begitu ia tetap merasa dingin karena sekarang baru memasuki musim gugur yang dingin ini.

Raebyung berdesah sambil mengusapkan kedua telapak tangannya untuk menghangatkannya. Di saat-saat seperti ini ia malah lupa untuk memakai jaket/sweater yang tebal. Ia berdecak kesal ketika mengingat kecerobohannya itu. Ya sudahlah mau tak mau ia harus merasakannya.
Melihat ada bangku taman yang kosong Raebyung memilih untuk mendudukan dirinya di sana. Raebyung mengedarkan pandangannya menatap keadaan disekitarnya.

Dedaunan berwarna coklat dan hijau kekuningan perlahan berguguran di sekelilingnya. Raebyung menarik nafasnya perlahan, terlihat bahwa ia menikmati pemandangan itu. Terlihat sangat indah menurutnya. Matanya juga tampak berseri-seri. Raebyung memang sangat menyukai musim gugur sejak dulu.

Sibuk melihat keadaan di sekitarnya, Raebyung tidak menyadari sedari tadi ada yang terus memperhatikannya. Orang itu duduk di sebelah Raebyung lalu usil menarik earphone yang sedang Raebyung pakai. Membuat Rabyung menoleh ke arahnya dan mendesah kesal. Merasa jengkel ada yang menginterupsinya.

“Sedang apa kau disini?“ tanyanya ketus sambil menatap malas ke arah Key.

“ Hanya sedang berjalan-jalan saja. Ah, memangnya tidak boleh aku datang ke sini juga ?! Hei, sepertinya kau tidak dalam situasi yang baik saat ini. Ya sudah kalau begitu aku minta maaf, tuan putri. “ ucapnya menanggapi perkataan Raebyung dengan evil smirk andalannya sambil menatap lurus ke arah lapangan.
Raebyung hanya mendengus kasar sambil menggembungkan pipinya, ia merasa kesal dengan julukan yang selalu Key katakan setiap kali Raebyung berubah menjadi menyebalkan.

Ada-ada saja tingkah mereka berdua, kadang bertengkar seperti anak kecil seperti ini. Kadang keliatan sangat akrab seperti tidak dapat dipisahkan.

“Ini. Kurasa kopi ini cukup membuatmu merasa hangat di cuaca seperti ini.”

Key menyodorkan kopi itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Raebyung. Keduanya masih keras kepala untuk berbaikan.

“ Ehem.. Gomawo. “

Merasa jengkel karena tidak dihiraukan Raebyung hanya meliriknya sambil menyesap kopinya perlahan. Key juga ikut menyesap kopi miliknya dan tetap bergeming masih belum mengalihkan pandangannya.

Hahh, memang Raebyung merasa lebih baik sekarang. Setelah dipikir-pikir ini semua memang berkat kebaikan Key. Ia berpikir tidak seharusnya ia marah dan merasa jengkel pada Key.

“ Hei,, sampai kapan kita akan bertengkar terus seperti ini? Kupikir kita amat sangat kekanakan. “ ucap Raebyung sambil menatap menerawang. Ia tersenyum tipis ketika mengingat mereka hanya bertengkar akibat masalah kecil saja. Ia tertawa renyah sambil menunggu respon dari Key.
Tak lama kemudian Key melirik ke arahnya dan ikut menertawai kekonyolan mereka berdua.

“Haha.. Mmm, begitukah?“ Key memiringkan kepalanya sambil mengerutkan kedua alisnya. Tampak seperti ia benar-benar berpikir lalu ia menatap ke arah Raebyung sambil tersenyum menyetujui.

“ Keudae. Ah, Kibummie, tumben sekali aku tidak melihatmu dikerumuni oleh yeoja-yeoja fansmu. Shh, biasanya kan seperti itu. “
“ Chogi, aku mendengar kau terkenal sebagai seorang playboy, benarkah itu? Aigoo, dari kabar yang kudengar selama 1 minggu ini kau sudah memacari 3 orang yeoja. Wah, jinjja daebak. “

“ Mwo? Ya! Lelucon macam apa yang kau katakan tadi? Play..Boy?! Ya! Kemari kau. Darimana kau bisa mengetahui hal semacam itu hah? Coba kau katakan lagi! ”

“ Playboy! Playboy! Hahaha.. aku benar-benar tidak menyangka Key-ah. “ Ledek Raebyung sekali lagi. Ia masih sempat menggoda Key sambil mehrong ke arahnya lalu sebisa mungkin lari dari kejaran Key.

Raebyung tahu ia pasti akan mendapat jitakan keras di kepalanya jika sebelumnya ia tidak cepat beranjak mengambil langkah seribu untuk terhindar dari amukan Key.
Ia pikir ini semua sangat mengasyikan. Sejak tadi Raebyung tertawa mengejek sambil berlari dari Key. Mereka berdua tampak sangat serasi jika seperti ini.

Key tersenyum puas ketika akhirnya ia bisa menangkap Raebyung dalam rengkuhannya. Mereka berdua kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dimana Raebyung berada di atas Key. Keduanya saling bertatapan lalu tertawa lepas menertawai kekonyolan mereka tadi.

Nafas keduanya masih terengah-engah akibat kejar-kejaran tadi. Raebyung lalu ikut berbaring di sebelah Key. Mereka berdua terjatuh di antara tumpukan dedaunan yang berguguran itu. Sebelah tangan Key masih menggenggam erat tangan Raebyung. Tidak berniat untuk melepaskannya.

Key menarik nafas perlahan diikuti dengan Raebyung. Key juga terlihat menikmati musim gugur ini. Walaupun cuaca sangat dingin mereka berdua malah tampak merasa nyaman. Terasa lama bagi mereka untuk bertahan dalam posisi seperti itu.
Lalu mereka berdua akhirnya bangkit dan duduk berhadapan. Terpikir oleh Key untuk memberi sedikit pelajaran pada Raebyung.

Key mengarahkan tangannya yang bebas ke puncak kepala Raebyung. Ia mengacak-acak rambut Raebyung lalu menjentikan sentilan yang cukup keras di dahinya. Key tersenyum jahil ke arah Raebyung.

Raebyung meringis ketika mendapati jitakan itu. Merasa tidak terima, ia membalasnya dengan memberikan pukulan keras di sebelah lengan Key. Mereka kembali tertawa bersama dan tampak menikmati kebersamaan yang dirasakan oleh keduanya.
Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai dengan masih diiringi oleh tawa mereka.

– Flashback End –

Raebyung akhirnya terlelap dengan masih menggenggam ponselnya, rasa lelah dan kantuk akhirnya benar-benar menguasainya. Dalam hatinya ia merasa hari esok telah menunggunya.

~

Pagi-pagi sekali Raebyung sudah bangun untuk menyiapkan bekal. Ia sengaja membuatnya untuk bisa makan bersama dengan Key.

Senyum Raebyung mengembang, ketika mengingat Key sangat menyukai masakan Gimbap* buatannya. Dengan mahir ia memotong satu per satu Gimbap itu lalu menyusunnya dengan rapi di dalam kotak bekal yang telah disiapkannya.
(*Gimbap : Nasi Gulung / Nasi Rumput Laut. Masakan khas Korea Selatan yang terbuat dari nasi yang dibalut dengan rumput laut kering dengan isinya yang bervariasi seperti sayuran, telur goreng, ikan dan sosis.)

“Hmm.. selesai. Aku tak sabar membayangkan bagaimana reaksinya ketika melihat kejutanku ini. Semoga ia menyukainya…“

~

Saat bel istirahat telah berbunyi Raebyung langsung berjalan menuju ke arah kantin. Ia berencana akan memberikan bekalnya itu di sana. Raebyung tersenyum ketika melihat Key yang tengah berjalan memasuki kantin yang diikuti oleh Jonghyun dan Minho.
Baru saja Raebyung berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Key, senyumnya memudar ketika melihat yeoja yang bernama Baek Suzy itu menghampiri Key terlebih dahulu. Ia melihat Suzy juga memberikan kotak bekalnya pada Key. Key menerimanya dengan senyum tulus.

Raebyung merasa kecewa dan sedih, ia langsung pergi dari situ tanpa menoleh lagi sambil membawa bekal yang telah susah payah dibuatnya itu.

Raebyung terduduk lemas di bangku taman. Ia menatap sedih ke arah Gimbap itu lalu Raebyung membukanya sambil tersenyum kecut. Ia benar benar kecewa, kalau tahu begini ia memilih untuk tidak membuatnya. Raebyung mengambil beberapa Gimbap lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. Ia memejamkan kedua matanya, mencoba tidak mengingat kejadian tadi sambil mengunyah Gimbap itu dengan perlahan.

Raebyung menghembuskan nafas panjang lalu menatap masakannya itu. Rasa kesal tiba-tiba menyelinap di hatinya. Sekali lagi ia menghembuskan nafas dan mencoba untuk menghabiskan semuanya sendirian.

###

Raebyung POV

Sejak kejadian minggu lalu itu, aku jarang menghabiskan waktu bersama dengan Key, bisa dikatakan aku yang menjauh darinya. Sering kali kami berpapasan di koridor sekolah, saat di kelas pun ketika tidak sengaja bertemu aku cenderung tidak akan menyapanya. Waktuku sekarang lebih sering dihabiskan bersama Jieun dan Luna seperti dulu. Aku juga selalu menyempatkan waktu untuk belajar supaya bisa mengalihkan pikiranku dari memikirkan Key. Pffftt, sungguh melelahkan.

Hari ini seperti biasa, dengan tampang lesu dan tidak ada semangat sama sekali aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam kelas. Aku berjalan menghampiri Luna lalu mendudukan diriku di sebelahnya sambil menaruh tas bawaanku. Tampaknya ia sedang tertidur, ia meringkuk di meja dengan wajahnya yang ditutupi kedua lengannya.

Setelah menoleh ke meja di belakangku, aku baru sadar kalau Jieun belum datang. Biasanya dia yang paling bersemangat untuk datang pagi sekali. Sepertinya ia tidak akan masuk hari ini.

Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponselku. Saat kuaktifkan ada 1 pesan yang masuk. Aku menghembuskan nafasku, cukup merasa risih saat melihat namanya.

Sender From : Key
Pulang sekolah nanti temui aku di gerbang sekolah.
Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.

Eotteokhe? Apa aku harus menemuinya?

~

Aku berjalan terseok-seok, dengan enggan aku melangkah menuju ke arah gerbang sekolah. Aku berjalan diiringi oleh Luna. Sudah beberapa kali aku mengeluh, jujur aku merasa sedikit malas untuk bertatapan muka langsung dengannya. Menanggapi keenggananku Luna tersenyum menyemangati sambil menepuk bahuku sekaligus memberikan semangat.

“ Hah, baiklah. Sepertinya aku memang harus bertemu dengannya. Aku merasa cukup lelah untuk terus menghindarinya Luna-ya. “ Aku menoleh ke arah Luna sambil menarik nafas berat.

“ Raebyung-ah, jangan mengeluh lagi seperti itu. Aku yakin tidak akan terjadi hal buruk jika kau menemuinya. Ayo fighting! “ ucap Luna untuk meyakinkanku. Ia juga mengepalkan sebelah tangannya di udara, sekali lagi untuk menyemangatiku.

Aku melambai kearahnya sambil tersenyum menenangkannya untuk tidak mengkhawatirkanku. Setelah Luna membalasnya, aku berbalik dan dapat kulihat Key yang memperhatikanku. Ia tampak menungguku sambil bersandar pada motor white sport miliknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja, yakinku. Ia tersenyum begitu aku sudah berada di hadapannya.

“Pakai jaket ini. Udara saat ini sangat dingin,aku takut nanti kau akan sakit.“

Awalnya aku ingin menolaknya tapi sebelumnya ia sudah memakaikan jaketnya itu padaku. Ia mengulurkan tangannya umtuk membantuku naik. Aku hanya menyambutnya sambil menyunggingkan senyum tipis.

~

“ Key, kita ada di mana sekarang? ” tanyaku penasaran setelah ia mematikan mesin motornya. Ia hanya menatapku tersenyum.

“ Nanti kau akan tahu sendiri. “ jawabnya singkat. Aku menatap ke sekelilingku, sekali lagi mengedarkan pandanganku. Disebelah kanan dan kiriku hanya tampak pohon-pohon mapple yang berdiri kokoh. Tampaknya ini seperti mengarah ke sebuah taman.

Aku merasakan seperti aku pernah datang ke sini sebelumnya. Tapi.. entah kenapa aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas. Apa itu hanya perasaanku saja?

Key berjalan menuntunku, ia menggenggam tanganku erat seperti tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang dimaksudkannya. Sejauh ini kami hanya berjalan lurus masih dikelilingi pepohonan lebat sampai dapat kulihat pemandangan yang terlihat sangat indah yang terbentang di hadapanku.

Aku tersenyum lebar, aku pikir ini semua terlihat mengagumkan. Aku seperti dapat melupakan beban yang selama ini kurasakan.

“Apa kau menyukainya?” tanyanya padaku.
Aku mengerling ke arahnya dan senyumku kembali mengembang. Aku mengangguk mengiyakan. Ia membalas senyumku lalu kembali menatap lurus ke arah danau.
“ Kurasa kita sependapat Rae-ah. Ini semua memang keliatan sangat indah.
Tapi ada hal lain yang menjadi tujuan utamaku mengajakmu kemari. Akan kutunjukan padamu. “ lanjutnya. Aku menaikkan sebelah alisku. Apa maksudnya?

Segera kusejajarkan langkahku mengikutinya. Aku cukup penasaran dengan semua ini, tepatnya kemana dia akan membawaku.
Key berjalan menuju sebuah bukit yang membentang di sisi kanan danau. Ia membantuku untuk mencapai puncak bukit itu. Setelah berhasil sampai, dapat kulihat sebuah pohon yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan beberapa langkah akhirnya kami bisa sampai tepat di depan pohon itu. Aku semakin merasa tidak asing dengan tempat ini.

“ Apa kau masih ingat dengan taman ini? Kau tahu, dulu kita amat sering berkunjung ke sini. Bersama eomma mu yang selalu menemani kita berdua. Melakukan piknik, bermain atau sekedar melihat pemandangan di sini. “

“ Benarkah? “ Pantas saja aku merasa tidak asing dari awal, ternyata begitu. Aku hanya menganggukan kepalaku. Key masih menatapku, senyum pun masih terlukis di wajahnya. Aku masih mencoba untuk mengingat semua hal itu. Melihat ekspresi wajahku yang kebingungan, ia mencba menunjukan hal lainnya padaku.

“ Kemarilah. ” Aku berjalan mendekatinya. Ia tengah berjongkok sambil menatap ke arah batang pohon mapple itu. Setelah kuamati lebih jelas ternyata di situ ada sebuah ukiran yang masih terlihat jelas di kulit batangnya. Aku ikut berlutut di sebelahnya. Kusentuhkan jemariku di ukiran itu dengan hati-hati.
Ukiran itu terlihat seperti tulisan yang membentuk huruf K + R =
Senyum lebar kembali mengembang di wajahku, kali ini aku dapat mengingat semuanya. Ketika aku terjatuh, Key menjagaku dan menggendongku di punggungnya, seolah menenangkanku. Ia yang selalu menghiburku saat aku sedang menangis tersedu-sedu.
Kami berdua tertawa bersama sambil berpegangan tangan…
“Aku dapat mengingatnya..Semua itu hampir terlupakan begitu saja di dalam memoriku..” sahutku ketika kita sedang duduk bersandar pada pohon mapple itu. Tiba-tiba Key menyandarkan kepalanya di puncak bahuku. Ia memejamkan matanya, keliatan seperti menikmati angin semilir yang terasa sejuk menerpa kulitnya. Saat aku akan beranjak, Key menahanku untuk tetap seperti ini.
“ Raebyung-ah, apakah kau tahu bahwa selama ini aku menyukaimu dan menyayangimu? Ani, sebenarnya malah aku benar-benar mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku merasakan kehangatan di hatiku, aku langsung jatuh cinta pada sepasang mata coklat yang menatapku teduh. Han Raebyung, kau sangat berarti bagiku. “ Tubuhku membeku mendengar ucapannya itu. Apa Key sedang mabuk sampai dia bisa berbicara seperti itu padaku?

“ Saranghae”, lanjutnya.

-TBC-

Author : Luciana Christin N. @Christincn

Main Cast :
• Han Rae Byung
• Kim Kibum(Key SHINee)

Genre : Romance

Length : Chaptered

Background Song : Superjunior – Andante
(Lagu ini memang yang feelnya kerasa banget. Lagunya patut diputer berulang-ulang sambil baca fanficnya. Hehe)

Note : Annyeong! This is my first fanfic.. Maaf sebelumnya kalau masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Storyline dari ff ini murni dari pemikiran kerja kerasku. Hehe,hope you’ll be like this story. Happy Reading!^^

Apa mungkin semua ini sudah ditakdirkan?
Rasa ini.. Apakah kau dapat mengetahuinya?

###
_ Prolog _

Perempuan itu termenung sendirian, dilingkupi kesunyian yang ada yang hanya dapat menambah sakit dan rapuhnya hati itu.. Belaian angin dan daun-daun yang berguguran di taman itu seakan menemaninya.. Ia berbisik pada kesunyian, apakah waktu dapat berputar kembali memanggil dia dalam rengkuhannya. Tawanya seakan ikut menguap dengan kepergiannya, yang hanya dapat menyisakan kepedihan. Memori yang selalu ia coba lupakan.. ketika semuanya berawal.

Rae Byung POV

“ Kim Ki Bum…“

Nama itu tiiba – tiba terlintas di benakku, ketika melihat sosoknya yang tegap dan berperawakan tinggi itu, saat melihatnya tengah bermain basket bersama teman – temannya.

Sedari tadi aku terus mengamatinya dari ruangan musik ini, yang dapat terlihat jelas melalui kaca besar yang menghadap langsung ke arah lapangan.

Dapat kulihat melalui sudut mataku, namja itu sedang menggiring dan memasukkan bola ke dalam ring basket.

Dia adalah teman semasa kecilku. Dulu kami sangatlah dekat sampai kami pernah berjanji akan terus bersama selamanya.

Ya, memang janji masa kecil semacam itu sekarang terdengar konyol. Ketika kita beranjak dewasa, hal – hal kecil yang berarti seperti itu kadang dianggap sangat kekanakan.
Hhhh, bogoshippoyo, desahanku diikuti dengan tarikan nafas panjang.

Kupejamkan mataku. Kuingat ketika dia melindungiku dari anak – anak yang sering mengejekku saat masa kanak – kanak dulu.

Dia yang selalu berusaha menjagaku disaat aku kedinginan dan sendirian. Sekarang, aku merasa sangat kehilangan sosoknya, yang dulu menyenangkan itu juga dengan pribadinya yang hangat.

Entah kenapa, sekarang seperti ada jarak yang memisahkan kita berdua. Jadinya kami menjadi sangat asing satu sama lain.

Aku tersenyum miris ketika mengingat kenyataan itu.
Mataku terasa panas, tak terasa buliran cairan bening keluar melalui sudut mataku.

Kenapa menyukaimu terasa sangat menyesakkan, mengingat aku hanya dapat menyimpannya rapat – rapat dalam hati. Aish,aku benci pada diriku sendiri.

Perlahan kulangkahkan kakiku menuju sudut ruangan, di mana di situ terdapat sebuah grand piano putih yang terlihat elegan.

Kududukan badanku di kursi yang berwarna senada itu. Mencoba merefleksikan semua kesedihanku, dengan alunan melodi yang selalu dapat menghanyutkan kepedihan yang kurasakan.

###

Author POV

Di luar matahari sudah bersinar terik, menerbitkan cahayanya. Gadis berambut lurus sebahu itu masih tertidur nyenyak dengan masih bergulung dengan selimut tebal ranjangnya. Hmm, ia masih sibuk berselancar dalam dunia bawah sadarnya.

Kriingggg… Kriingggg…

“ Mmm,, berisik sekali sih. ”
Dalam keadaan setengah sadar, matanya menyipit ke arah jarum jam sambil berusaha mematikan alarm yang berisik itu.

Samar-samar terlihat olehnya jam yang menunjukan pk 07.00, sejurus kemudian ia tersentak dan langsung tersadar akan sesuatu.

“ Jam 07.00. Omo, aku akan terlambat. “ sontak akhirnya membuat raebyung bangun dari tempat tidurnya.
Sambil berjalan agak timpang, ia bergegas keluar kamar, menyambar handuknya lalu masuk ke kamar mandi.

Sibuk mengancingkan seragamnya, dasi yang digigit sambil memakai kaus kaki dan menyisir sekaligus dalam waktu 3 menit, lalu memasang sepatunya dengan cepat dan berlari menuju meja makan.

Setelah menghabiskan rotinya dengan sekali lahap dan meminum susunya dengan cepat. Ia menyempatkan untuk menyapa umma dan appanya.

“ Selamat pagi.. appa, umma. Aku berangkat dulu, annyeong ! “

“ Pagi.. Ne, hati-hati di jalan. ” Sahut mereka bersamaan.

~

“ Hosh.. Hosh.. untung saja, hah. Aku bisa sampai tepat waktu. Aigoo, lelah sekali. “ Raebyung dapat bernafas lega sekarang. Ia berhasil sampai di kelasnya dengan selamat, syukurlah.

Beruntung tadi ia tidak tertangkap oleh guru piket yang terkenal sangat galak di sekolahnya. Fiuh.

Beruntungnya juga tadi begitu sampai di tempat pemberhentian, sebuah bus berhenti tepat di depannya. Dewi fortuna memang sedang berpiihak padanya, sehingga keadaan raebyung sekarang benar-benar tertolong.

###

Rae Byung POV

Oh, annyeong haseyo! Joneun Han Rae byung imnida, bangapseumida 
Sekarang aku sudah memasuki tahun ketiga di Chunseok High School Seoul.

Awalnya aku memang tidak mempunyai banyak teman, karena aku bukan orang yang bisa langsung merasa nyaman dengan orang-orang yang baru kukenal. Tapi bukan berarti aku antisosial, hanya saja aku lebih suka menyendiri.

Hei, tapi aku juga mempunyai sahabat, mereka adalah Jieun dan luna. Haha, bisa dibayangkan, tanpa mereka hidupku pasti akan membosankan. Hmm, baru saja aku membicarakannya, mereka sudah muncul di hadapanku.

“ Aigoo. Hei, kau habis darimana? Lari marathonkah?! Haha, lihat, kau seperti habis mandi keringat begitu. “ ucap Luna ketika aku baru saja duduk di kursiku.

Jieun hanya menanggapinya dengan anggukan setuju. Tatapan mereka bertanya-tanya dengan apa yang sudah kulakukan ketika melihat keadaanku sekarang. Belum sempat aku menjawabnya, Jieun sudah melontarkan pertanyaan lain.

“ Raebyung-ah, kenapa kau bisa-bisanya terlambat ?! “

“ Cck. Kalian cerewet sekali. Masalah itu nanti akan kujelaskan pada kalian. Ehm.. tunggu, memangnya ada apa ? “ sahutku menanggapi.

“ Kau tidak tahu ? “

“ Memangnya kenapa dengan hari ini ? Hei, ayolah Luna-ya jangan membuatku penasaran, kalian cepat beritahu aku. “

“ Ne. Menurut gosip yang beredar, mulai hari ini Kim Kibum dan Choi Minho akan masuk ke kelas anak berbakat. “

“Mwo ?“ Kedua mataku sontak terbelalak kaget saat Luna memberitahukannya. Jadi, aku akan sekelas dengan Key ?

Aish, shireo. Apa yang akan aku lakukan nanti ketika aku bertemu dengannya, eotteokhe?!

Oke. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya. Berpura-pura seperti tidak mengenalnya.

“ Omo.. Itu mereka. “ Ucapan Jieun itu seketika langsung membuyarkan lamunanku, kutolehkan kepalaku ke arahnya yang baru saja memasuki kelas. Apakah mereka memang memiliki pesona yang yang luar biasa seperti itu ?

Eh? Apa yang kupikirkan tadi? Ku gelengkan kepalaku untuk cepat sadar dari pemikiranku yang aneh tadi.

Seiring dengan langkah mereka, terdengar decakan kagum bahkan ada yang sampai histeris ketika melihat mereka. Oh ya ampun, kupikir itu berlebihan. Dengan malas kukeluarkan tugas-tugasku yang belum sempat kuselesaikan, tanpa menghiraukan lagi kehadiran mereka. Pasti sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Tak kuhiraukan juga, Jieun dan Luna yang pasti sekarang mereka berdua sedang bergosip ria. Ckckck.

Esok harinya…

“ Selamat pagi semua. Ne, kita bertemu lagi di kelas musik kali ini. Perhatikan, sebelum kita memulai pelajaran seonsaengnim ingin menyampaikan pengumuman penting yang harus kalian ketahui. “ ucap Wang Fei seonsaengnim sambil tersenyum ramah pada kami saat akan memulai pelajaran.

“ Tugas akhir kalian untuk pelajaran musik adalah menyanyikan sebuah lagu berbahasa inggris. Kalian akan menyanyikannya dengan pasangan kalian masing-masing. “
“ Untuk pasangannya, aku sudah memangsangnya di setiap upright. “ lanjut seonsaengnim , guru musik yang genap berusia 25 tahun itu.

Refleks, aku langsung mencarinya. Mataku langsung tertuju pada bagian kanan atas upright yang sudah tertempel kertas di situ.

Mwoya?! Apa aku tidak salah lihat? Kuperjelas lagi penglihatanku dengan menyipitkan kedua maraku.

Rae Byung, Han
Ki Bum, Kim

Ya! Ige mworago ? Wae gurae ?! Aish, aku benar-benar tidak terima.
Kenapa pasanganku harus DIA ?? Menyebalkan.

Dari jarak yang cukup dekat, hanya dibatasi 2 orang di sebelah kiriku, aku dapat melihatnya, yang masih menatap ke arah kertas-nama-pasangan itu.
Tiba-tiba terlukis seulas senyum di wajahnya. Hei, kenapa dia menyeringai seperti itu? pikirku bingung sambil menaikkan sebelah alisku.

Ketika ia merasakan ada yang memperhatikannya, detik berikutnya, pada saat itu kedua tatapan kami bertemu. Kurasakan kami bertatapan intens seakan-akan ingin memahami tatapan masing-masing.. Aku masih mencoba mengerti apa arti senyum itu.

T B C


Arsip

The Author

WELCOME TO MY WORLD : SM & YG Family